Kelas Malam

KISAH PANJANG HIJAB DI KAMAR OPERASI

Prita Kusumaningsih

a897eb6d2074a7640b7bee056bfc7b54
pict from https://s-media-cache-ak0.pinimg.com

“Jadi berapa meter kain yang dibutuhkan?”

“Jenis bahannya sudah dicek belum? Warnanya juga harus sama persis, lho”.

“Bagaimana kalau kita pinjam saja sepasang baju dan celana itu barang sehari? Buat contoh ke penjahit”

“Kamu jadi kan, bicara dengan ibu kepala ruangan kemarin?”

Itulah sebagian kasak kusuk kami, mahasiswi berhijab Fakultas Kedokteran semester 9 di sebuah universitas negeri di Surabaya di tahun 1988.

Bukan.  Kami bukan teroris yang sedang merencanakan pengeboman. Bukan pula sedang menyiapkan sebuah aksi damai.  Lebih dari itu, kami sedang merencanakan sebuah kerja besar.  Kerja yang tampaknya mustahil, tapi akan kami coba. Ini menyangkut nasib pendidikan kami dan juga para adik-adik yunior kami.  Berbekal keyakinan dan prasangka baik saja.

Tahun kelima,  tiba waktunya kami yang sudah menyandang gelar Dra.Med (sekarang SKed atau Sarjana Kedokteran) masuk ke kamar operasi secara penuh.    Dalam pergaulan sehari-hari di rumah sakit sebutannya adalah  dokter muda (DM).  Kalau di beberapa tempat disebut dengan Co Ass, itu sebenarnya istilah Belanda, kependekan dari Co Assistent.  Angkatan kami boleh dikatakan adalah angkatan perintis mahasiswi kedokteran berjilbab.  Kakak angkatan, ada juga yang berjilbab, tapi cuma 2 orang kalau tidak salah.  Jadi daya gebraknya tidak bisa besar.  Sedangkan kami bersembilan.  Dan ada banyak kawan mahasiswa yang seide, sejalan, serta siap mendukung perjuangan.

Apa yang hendak diperjuangkan? Dan apa kerja besar itu?

Yang hendak diperjuangkan adalah bagaimana agar aurat tetap terjaga saat sedang berada di kamar operasi.  Ini merupakan kelanjutan dari gerakan berbusana muslimah dengan jilbab menutup kepala yang dimulai sejak awal tahun 1980an.  Bila adik-adik siswa SMA saat itu berjuang agar diperbolehkan tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan seragam putih abu-abu berjilbab, perjuangan kami yang mahasiswi khususnya fakultas kedokteran adalah membuat seragam kamar operasi yang menutup aurat.

Setelah beberapa kali diskusi panjang akhirnya diputuskan bahwa kami akan membuat sendiri seragam kamar operasi khusus buat yang berbusana muslimah dan kemudian diserahkan sebagai inventaris.  Seperti diketahui, setiap orang yang masuk ke dalam kompleks kamar operasi (Operation Theatre) untuk urusan apa pun wajib ganti baju, pakai tutup kepala, masker, dan sandal khusus.  Semua itu sudah disediakan di ruang ganti.   Seragam  asli di kamar operasi adalah kemeja lengan pendek, berleher V yang cukup rendah, dan celana panjang.  Tutup kepalanya  bermodel seperti shower cap tipis dan menerawang dengan beberapa helai rambut yang terkadang lolos keluar.  Sandalnya juga  khusus.  Tentu saja dengan model sedemikian, masih banyak aurat yang terbuka.  Seorang kakak senior berjilbab pernah saya jumpai memasang peniti di leher kemeja agar tidak terlalu terbuka.  Dan selama mondar mandir di kamar operasi ia selalu berusaha menyembunyikan lengan bawahnya yang terbuka itu.   Pernah juga sekali waktu, kami mengenakan jilbab di balik showercap itu.  Baru beberapa langkah memasuki lorong,  semprotan pengawas kamar operasi (yang kamarnya memang terletak di dekat pintu utama) bakal menggema ke seluruh area.  Akibatnya bisa diduga. Tinggal pilih, lepas jilbab atau batal masuk!

Rapat kilat antara grup jilbab dengan rekan-rekan mahasiswa yang menaruh simpati membuahkan keputusan seperti di atas.  Harus buat seragam sendiri,  dan kemudian didaftarkan jadi inventaris kamar operasi.  Maka dibentuklah beberapa seksi.  Seksi-seksi tersebut meliputi bagian perijinan, bendahara merangkap bagian pengadaan, serta seksi penjahitan.  Mengingat anggaran yang dibutuhkan cukup besar untuk kantong mahasiswa maka kami semua bertindak sebagai seksi Dana Usaha (Danus).  Untuk bagian perijinan dipilih teman yang tutur bahasanya halus, tegas, namun persuasif.  Ini penting karena tugasnya adalah pedekate ke kepala ruangan dan merayu bagian perbajuan.

Salah satu keberatan yang disampaikan adalah, “Bagaimana kalian nanti kalau harus cuci tangan dengan baju lengan panjang tersebut?”

Pertanyaan yang wajar karena setiap orang yang bertugas dalam tim operasi (dokter operator, para asisten operasi dan petugas instrument) diwajibkan cuci tangan sampai ke siku.  Ini prosedur wajib.  Ibu perawat senior yang galak  menjabat kepala ruangan ini tak dapat membayangkan bagaimana caranya cuci tangan dengan baju lengan panjang! Pertanyaan yang wajar dan bisa dijawab dengan mudah. Yaitu, sebagai calon dokter muslimah kami tetap professional.  Cuci tangan sampai ke siku yang merupakan kewajiban saat akan mengenakan gaun operasi, tetap akan dikerjakan sesuai prosedur.  Ingat, busana muslimah tidak menghambat pekerjaan.

Kembali ke laptop.  Seksi selanjutnya adalah pengadaan barang yang bertugas beli kain ke pasar.  Saya sendiri kebagian seksi penjahitan.  Bukan karena bisa menjahit, tapi karena punya tetangga tukang jahit.  Yang mengharukan adalah laporan dari seksi danus, bahwa sumbangan dana terbesar ternyata datang dari rekan-rekan mahasiswa simpati!

Dua pekan kemudian, jadilah 10 set seragam kamar operasi plus kerudung dan kaos kaki hasil kolaborasi mahasiswi muslimah dan rekan mahasiswanya.  Alhamdulillah, petugas kamar ganti tak keberatan dengan adanya baju-baju tambahan dari luar  tersebut.  Dan kami pun bisa dengan nyaman dan aman bertugas di kamar operasi

Waktu terus berjalan.  Seusai bertugas di daerah terpencil, enam tahun kemudian saya kembali ke almamater untuk meneruskan pendidikan spesialis.  Jurusan yang saya dalami mengharuskan keluar masuk kamar operasi.  Dan betapa mengharukannya saat melihat baju-baju kami dulu  tetap jadi inventaris    Tentu saja seragam spesial tersebut sudah beranak pinak karena ternyata para dokter muda muslimah angkatan selanjutnya juga menyumbangkan seperangkat baju seragam.  Di lemari,  khusus tumpukan kemeja lengan panjang diberikan area khusus membentuk tumpukan tersendiri dengan judul “jilbab”.

Tak jarang saya menerima keluhan dari para dokter muda di rumah sakit lain atau di kota lain dengan problem yang sama, maka saya bilang , “Bernegosiasilah agar bisa menaruh seragam buatan sendiri.  Karena mungkin saja para petugas kamar operasi mengira merekalah yang harus menyediakan seragam tersebut. Tentu saja sangat repot dan berbelit prosedurnya”.

Jadi kalau saat ini di rumah sakit sudah sangat ramah jilbab, ketahuilah bahwa ada perjuangan untuk hal itu.  Dulu. Dan perjuangan itu ternyata masih terus berjalan hingga saat ini, setelah tiga puluh tahun berselang.  Sampai sekarang masih ada rumah sakit yang melarang penggunaan jilbab untuk paramedis, dan kalau pun boleh menutup kepala untuk baju hanya diijinkan berlengan tiga perempat, yaitu hanya sedikit melewati siku.  Dasar pelarangannya adalah ketakutan mengganggu pelayanan terhadap pasien yang tidak pernah terbukti.  Prihatin memang, namun itulah perjuangan. Tidak ada tamatnya.  (nin)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s