Pak Cah

DAFTAR KESULITAN MENULIS DAN JAWABANNYA: Bagian Ketiga, Jawaban dari Sebelas Kesulitan

 

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

DAFTAR KESULITAN MENULIS DAN JAWABANNYA: Jawaban dari Sebelas Kesulitan (III)
pict from knotstressed.com

 

Pada dua postingan sebelumnya, sudah saya sampaikan duapuluh dua kesulitan menulis. Pada postingan kali ini, akan saya sampaikan sebelas kesulitan bagian ketiga, berikut jawabannya.

  1. Mohon dibantu sampai penerbitan jika kita sudah punya karya yang layak

Jawaban: Untuk penerbitan buku, anda bisa memilih tiga cara —self publishing, penerbitan indie, atau penerbit mayor. Semua model penerbitan buku tersebut, ada plus minusnya. Kami siap untuk memberikan masukan dan catatan dari karya anda yang ingin dijadikan buku.

  1. Membuat karya ilmiah yang dibuat menjadi menarik untuk dibaca khalayak umum

Jawaban: Itulah yang disebut sebagai artikel ilmiah populer, seperti sudah saya sampaikan dalam ebook maupun dalam pertemuan online. Sebenarnya membuat tulisan ilmiah, namun dibahasakan secara populer, agar lebih mudah dipahami oleh banyak kalangan. Caranya dengan menghilangkan istilah-istilah akademis atau teknis yang tidak dipahami oleh masyarakat luas, dan diganti dengan istilah lain yang lebih populer. Karena istilah akademis atau teknis tersebut hanya dipahami oleh kalangan terbatas, yang memiliki disiplin ilmu yang sama.

  1. Susah konsisten menggunakan bahasa baku tapi tetap mudah dipahami, ringan dan santai

Jawaban: Anda boleh saja menggunakan kata atau kalimat yang tidak baku atau tidak standar, asalkan ditandai atau ditulis dengan huruf miring. Untuk penggunaan kata-kata asing, atau bahasa daerah, perlu diberikan terjemahannya agar tidak membingungkan pembaca.

Dan, jangan pernah punya anggapan bahwa bahasa baku itu susah dipahami dan berat. Bahasa baku itu bukan bahasa yang susah dipahami. Kalau bahasa kita susah dipahami, artinya itu salah bahasa 🙂 Mungkin menggunakan bahasa planet lain 🙂

  1. Bagaimana membangun keberanian atau tips agar kita tidak minder dan khawatir atas penilaian orang lain terhadap tulisan kita karena menunggu sempurna maka kita tidak akan pernah menulis

Jawaban: Mengapa anda minder dan khawatir atas penilaian orang lain? Mungkin karena anda membandingkan tulisan anda dengan tulisan para penulis senior dan terkenal. Jangan bandingkan tulisan anda dengan tulisan mereka yang sudah pakar, karena berbeda jam terbang. Jika baru belajar menyetir mobil, jangan bandingkan dengan para pembalap mobil kelas dunia yang sudah malang melintang dalam berbagai macam kejuaraan mobil.

Perasaan minder dan khawatir bisa juga disebabkan karena anda berobsesi selalu ingin mendapatkan banyak pujian dari pembaca. Anda ingin menyenangkan semua kalangan? Mustahil. Semua orang di zaman cyber ini, selalu punya likers dan haters. Selalu ada penggemar dan penghujat. Penulis yang paling hebat di muka bumi inipun, pasti punya haters. Maka saya sarankan, anda tidak perlu fokus kepada komentar orang. Namun fokus pada perbaikan kualitas tulisan dengan terus menerus melakukan latihan rutin.

  1. Bagaimana bisa mendapatkan pendampingan (editing dll) sampai bisa menerbitkan sebuah buku, baik secara indie maupun dengan penerbit mayor?

Jawaban: Untuk self publishing dan penerbit indie, anda harus membuat tim sendiri untuk mempersiapkan buku anda. Tim ini yang akan melakukan editing, setting, layout, membuat cover, serta membawa naskah siap cetak ke percetakan (untuk self publishing),atau membawa naskah ke penerbitan indie. Untuk penerbit mayor, mereka sudah menyediakan semua tim teknis tersebut, sehingga anda tidak perlu membuat tim sendiri.

Pengalaman saya dengan teman-teman komunitas Rumah Keluarga Indonesia (RKI) DIY, kami membentuk tim teknis terdiri dari 5 personil untuk menyiapkan buku kompilasi karya RKI, dan diterbitkan secara indie. Sampai sekarang sudah terbit tiga buku kompilasi, secara indie. Tim teknis ini digunakan untuk menyiapkan naskah sampai siap cetak.

Kami bersedia memberikan saran dan catatan jika anda sudah memiliki karya untuk diterbitkan menjadi buku.

  1. Kadang masih ragu, apakah kalimat-kalimat yang ditulis sudah masuk paragraf baru? Saya kadang masih sulit menentukan pikiran utama.

Jawaban : Pada awalnya, tulis saja semua bahan dan pesan yang hendak anda sampaikan kepada khalayak. Jika sudah selesai proses penulisan, babak selanjutnya adalah editing. Saat proses melakukan editing inilah anda melakukan penyisiran sejak dari awal tulisan hingga bagian akhir. Apakah setiap paragraf sudah mencerminkan satu kesatuan gagasan yang utuh, ataukah bisa dibagi menjadi dua paragraf karena terlalu panjangnya paragraf yang anda buat.

Pada saat proses penulisan, tidak perlu ragu dan khawatir soal paragraf. Tulis saja semuanya. Urusan merapikan itu adanya di bagian akhir saat mengedit tulisan.

  1. Yang ada di pikiran, menjadi buntu begitu mau dituangkan dalam tulisan

Jawaban: Jika anda buntu untuk menuliskan hal yang sudah ada dalam pikiran, minimal tuliskan dulu pokok-pokok pikiran yang hendak anda tuliskan. Dengan menulis pokok-pokok pikiran ini, maka anda telah mendokumentasikan ide, sekaligus men-sistematika-kan bahan tulisan. Jika pokok pikiran tidak segera anda tuliskan, bisa jadi akan hilang dan sulit anda ingat-ingat kembali pada kesempatan yang lain.

Milikilah file yang berisi kumpulan pokok pikiran, atau kumpulan bahan tulisan. Pada saat anda memiliki waktu untuk menulis, segera buka file tersebut, dan pilihlah salah satu bahan atau pokok pikiran yang sudah anda dokumentasikan dari waktu ke waktu.

  1. Orang lain menangkap maksud tulisan kita berbeda dengan yang kita maksudkan

Jawaban: Jika kita mengetahui ada orang lain yang salah tangkap terhadap tulisan kita, segera perbaiki tulisan itu. Jika tulisan ini diposting di blog atau web atau medsos, kesalahpahaman itu biasanya kita ketahui dari komentar atau tanggapan pembaca. Mungkin ada pembaca yang konfirmasi atau bertanya, namun menampakkan kesalahpahaman terhadap isi tulisan kita. Jika demikian yang terjadi, segera lakukan koreksi agar tidak menambah jumlah orang yang salah paham.

Saya pernah mengalami kejadian seperti itu. Saya justru merasa bersyukur saat seorang pembaca menyampaikan komentar negatif atas sebuah tulisan saya. Begitu saya baca ulang, memang ada bagian yang memungkinkan orang menyalahpahami maka segera saya koreksi tulisan itu dan saya posting ulang. Inilah pentingnya editing sebelum tulisan kita posting.

  1. Banyak ide yang terlintas dalam pikiran ketika beraktivitas tapi ketika ada waktu luang dan mau mulai menulis, semua ide-ide hilang

Jawaban: Bawa buku kecil dan bulpen kemanapun anda pergi, untuk mencatat semua ide yang melintas. Buku itu khusus mencatat semua lintasan ide. Jika anda akrab dengan gadget, maka tuliskan semua ide yang melintas itu dalam gadget anda. Dengan demikian semua ide selalu terekam dan terdokumentasikan dengan baik, tidak ada yang hilang. Jika sudah memiliki waktu luang, bukalah file dokumen yang berisi lintasan ide tersebut untuk dikembangkan menjadi tulisan yang utuh.

  1. Bagaimana cara membagi waktu supaya bisa konsisten menulis di tengah-tengah rutinitas sehari-hari?

Jawaban: Pertama kali milikilah waktu tetap untuk menulis. Jam berapa setiap harinya anda harus mengalokasikan waktu untuk menulis? Jika sudah memiliki waktu khusus untuk menulis ini, maka menulislah pada waktu yang sudah anda tetapkan. Misalnya, anda menulis setiap malam jam 02.00 – 03.00, maka bangunlah sebelum jam 02.00 untuk bersiap-siap, dan tulislah sesuatu selama jam yang sudah andatetapkan tersebut. Jika pada jam tersebut tidak muncul ide apapun untuk menulis, bukalah file-file yang berisi kumpulan ide atau bahan-bahan tulisan anda. Pilih salah satu dari file itu untuk dikembangkan menjadi tulisan.

  1. Saya kesulitan menyusun kalimat yang menarik, kosa kata yang minim, bahasa yang saya tulis hanya bahasa standar yang biasa keluar dari mulut lalu ditulis

Jawaban:  Tujuan anda menulis untuk apa? Tujuan ini menjadi sangat penting kita mengerti dan kita tetapkan setiap kali menulis. Dengan demikian kita tidak terbebani dengan keinginan untuk menghadirkan tulisan yang bombastis dan menggegerkan dunia, jika tujuan tulisan kita adalah untuk berbagi cerita, berbagi pengalaman, berbagi ilmu, berbagi hikmah, berbagi nasihat. Jadi, jika tujuan menulis untuk berbagi sepertiini, maka bahasa standar dan kosa kata yang sederhana, tidak ada masalah sama sekali.

Kecuali jika tujuan menulis anda adalah untuk mendapatkan sensasi dan menggegerkan dunia, maka anda memang harus serius mencari kosa kata dan istilah yang akan melahirkan kegemparan seperti yang anda harapkan. Jadi, tetaplah menulis walau anda merasa bahasa anda standar dan biasa saja. Tetaplah menulis walau anda merasa kekurangan kosa kata. Tetaplah menulis walau anda merasa hasil tulisan anda tidak menarik untuk dibaca.

Karena jika anda berhenti menulis disebabkan adanya kesulitan, maka anda tidak akan pernah bisa untuk selamanya.

SELESAI

Pak Cah

DAFTAR KESULITAN MENULIS DAN JAWABANNYA: Bagian Kedua, Jawaban dari Sebelas Kesulitan

 

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

DAFTAR KESULITAN MENULIS DAN JAWABANNYA:  Jawaban dari Sebelas Kesulitan (II)
pict from google

Pada postingan sebelumnya, sudah saya sampaikan sebelas kesulitan menulis bagian pertama. Pada postingan kali ini, akan saya sampaikan sebelas kesulitan bagian kedua berikut jawabannya.

  1. Bagaimana supaya menciptakan suasana penasaran pada pembaca sehingga mendorong pembaca untuk terus membaca hingga selesai –walau artikelnya panjang

Jawaban : Menciptakan suasana penasaran pada pembaca bisa dilakukan pada banyak bagian. Pertama bagian judul. Dengan judul berupa pertanyaan, maka pembaca ingin mencari tahu jawaban lengkapnya. Kedua, bagian pendahuluan. Dengan mengolah di bagian pendahuluan, akan membuat pembaca tertarik untuk meneruskan membaca hingga selesai. Ketiga, di bagian penutup. Jika ingin menulis secara bersambung, bagian penutup ikut menentukan ketertarikan pembaca menunggu tulisan berikutnya.

  1. Bingung penentuan pola tulisan, apakah bertutur atau memaparkan atau lebih ‘sastrawi’

Jawaba: Tidak perlu bingung, karena pola atau gaya manapun selalu ada segmen pembacanya. Mau gaya bertutur, gaya pemaparan, gaya sastra, semua bisa menjadi tulisan dengan segmen masing-masing. Semua pola atau gaya tersebut bisa menjadi tulisan yang menarik. Maka silakan memilih gaya sesuai dengan kecenderungan anda, yang anda merasa “ini gue banget”, sehingga anda menjiwai dan anda lebih lancar dalam menuliskannya.

  1. Tidak bisa menulis sistematis, masih loncat-loncat

Jawaban: Agar bisa menulis sistematis, anda bisa berlatih dengan menggunakan kerangka tulisan atau dengan outline. Guna kerangka adalah untuk men-sistematika tulisan kita, serta untuk melakukan pembatasan. Dengan outline, kita akan fokus menulis pada bahan-bahan sesuai yang sudah kita tetapkan dari awal, tidak akan melebar dan menyimpang. Apalagi untuk jenis tulisan yang panjang, kerangka atau outline menjadi sangat membantu proses penulisan sekaligus membuat tulisan menjadi lebih sistematis.

  1. Manajemen waktu

Jawaban: Semua manusia diberi waktu yang sama oleh Allah. Sehari semalam duapuluh empat jam. Tidak peduli dia seorang Presiden atau seorang pengamen, waktu yang dia punya adalah sama. Sekarang tergantung bagaimana kita mengelola dan memanfaatkannya. Yang jelas, al wajibat aktsaru min auqat. Kewajiban kita jauh lebih banyak daripada waktu yang kita miliki. Maka tetapkan waktu untuk menulis, berapa menit atau berapa jam dalam sehari, dan disiplinlah dengan pengaturan waktu tersebut.

  1. Terkadang tidak pede menulis karena takut salah dari segi referensi dengan tema yang kita kehendaki. Referensi yang harus kuat itu membikin maju mundur untuk menulis artikel

Jawaban: Sangat banyak tema untuk kita tulis, dan tidak semua tulisan memerlukan referensi. Mengapa mempersulit diri dengan tulisan yang memerlukan referensi? Mulailah dari menulis hal-hal sederhana dari pengalaman hidup, kerena referensinya adalah diri kita sendiri. Bahkan tulisan pengalaman kita, bisa menjadi referensi bagi orang lain. Kita yang menciptakan referensi.

Contoh judul tulisan yang memerlukan referensi dengan akurat : “Derajat Hadits-hadits Tentang Sabar yang Diriwayatkan Selain Bukhary dan Muslim”. Karena studi hadits, maka referensinya harus akurat, melibatkan sejumlah kitab-kita rujukan terpercaya.

Contoh judul tulisan yang referensinya adalah pengalaman hidup kita : “Pengalaman Praktis Melakukan Perjalanan Dengan Gembira dan Menyenangkan”. Ini sih tulisan yang kita bikin sambil riang gembira, karena referensinya dari pengalaman perjalanan kita sendiri. Tidak perlu membuka buku apapun.

Prinsipnya selalu sama : mulailah dari yang mudah, jangan memulai dari yang sulit.

  1. Dalam tulisan-tulisan yang saya buat, saya sangat akrab dan kental dengan ‘bahasa-bahasa sastra’, terkadang sering lupa ngeremnya. Meski demikian saya akan berlatih untuk mengurangi itu, tanpa mengubah keindahan tulisan dan pesan utamanya

Jawaban: Untuk tujuan apa anda harus ‘mengerem’ bahasa sastra dalam tulisan anda? Jika dengan sentuhan bahasa sastra membuat artikel anda lebih indah dan enak dibaca, mengapa harus dihilangkan? Yang paling penting tulisan anda itu sudah mewakili atau merepresentasikan pesan apa  yang ingin anda sampaikan. Maka seperti apapun gaya penulisan anda, nomer satunya sudah bisa merepresentasikan pesan penting yang ingin anda sampaikan.

  1. Sulit mengakhiri / menutup tulisan

Jawaban : Alhamdulillah, berarti anda berbakat untuk menjadi penulis serial, atau tulisan bersambung, yang akhirnya bisa menjadi berjilid-jilid buku. Jangan akhiri tulisan anda, jika anda masih sangat asyik dan sangat menikmatinya. Terus saja menulis, lanjutkan saja tulisan anda. Jika semua sudah selesai anda tulis, berikutnya anda tinggal membagi-bagi tulisan itu menjadi beberapa bagian untuk diposting, agar tidak terlalu panjang. Nikmati proses menulis, dan jangan langsung diakhiri jika memang anda masih ingin meneruskan tulisan.

  1. Diksi untuk judul supaya memikat calon pembaca

Jawaban: Untuk mendapatkan diksi yang menarik saat membuat judul, anda harus luangkan waktu untuk tamasya ke toko-toko buku besar dan laris di kota anda. Kelilingi rak ‘buku best seller’, pelototi satu per satu judul buku yang ada di rak tersebut. Lalu lanjutkan berkeliling ke semua rak yang lain, untuk mendapatkan inspirasi judul-judul buku yang menarik. Ini adalah cara praktis. Karena untuk cara teoritisnya sudah saya tulis di ebook.

  1. Minim kosa kata dan kata ilmiah, bahasa masih polos, mengalir apa adanya sesuai kondisi hati yang dirasakan saat itu/saat menulis

Jawaban: Kondisi yang anda sampaikan ini memungkinkan anda membuat tulisan dengan kedalaman emosi atau kesertaan hati. Karena anda menulis sesuai kondisi hati, ini yang membuat tulisan anda menjadi lebih hidup dan bernyawa.

Urusan minim kosa kata, bisa anda atasi dengan tiga cara. Pertama, sesekali bukalah Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan bacalah kata-kata yang ada di dalam buku kamus tersebut. Ini akan membuat anda mengerti sangat banyak kosa kata baku dalam Bahasa Indonesia. Kedua, perbanyak membaca karya penulis lain, dengan demikian anda akan bertambah perbendaharaan kosa kata plus cara penggunaannya dalam menyusun kalimat. , Ketiga, teruslah menulis, sehingga kosa kata yang sudah anda dapatkan dari kamus maupun dari buku karya orang lain, bisa segera anda gunakan. Karena kalau tidak anda gunakan, akan cepat hilang lagi.

  1. Menentukan tema yang bisa menjadi passion kita

Jawaban: Yang paling mudah justru memulai dari passion anda dulu, lalu dilanjutkan dengan menulis yang sesuai dengan passion anda tersebut. Tanyakan kepada diri anda sendiri, galilah dari anda sendiri, apa passion hidup anda. Jika anda menulis sesuai dengan passion anda, maka anda sangat mudah melakukannya, karena anda menulis dengan sepenuh jiwa. Anda tidak berharap imbalan apapun dari tulisan anda, jika itu sesuai dengan passion anda. Anda bersedia menulis tanpa dibayar, jika itu sesuai passion anda. Apalagi kalau dibayar, tentu lebih semangat.

Menulis tema yang sesuai dengan passion anda, akan membuat tulisan anda lebih hidup dan bernyawa. Tulisan anda lebih lancar mengalir, disertai kekuatan emosi dalam setiap pilihan kata serta kalimatnya. Itu karena anda menulis yang sesuai passion anda.

  1. Menemukan waktu yang tepat dan konsisten untuk menulis

Jawaban: Ini menyangkut manajemen waktu anda sendiri. Setiap orang berbeda situasi dan kondisinya. Masing-masing kita yang mengerti kapan waktu yang tepat untuk menulis, dan bisa produktif dalam menuangkan ide ke dalam tulisan. Cobalah anda cermati penggunaan waktu anda selama ini, sejak Ahad sampai Sabtu, dari banguntidur sampai tidur lagi, untuk apa selama ini? Lalu cari celah yang bisa anda gunakan untuk menulis rutin setiap hari, apakah setengah jam, atau satu jam, pada waktu tertentu.

Setelah menetapkan waktu, maka paksakan diri untuk menulis pada waktu tersebut. Buka laptop, dan segera tuliskan sesuatu di laptop anda. Apapun tulisannya, yang penting terus menulis pada waktu tersebut.

BERSAMBUNG

Pak Cah

DAFTAR KESULITAN MENULIS DAN JAWABANNYA: Bagian Pertama, Jawaban dari Sebelas Kesulitan

 

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

DAFTAR KESULITAN MENULIS DAN JAWABANNYA: Bagian Pertama, Jawaban dari Sebelas Kesulitan
pict from google

Berikut adalah daftar kesulitan atau kendala dalam menulis artikel, dari para peserta Wonderful Writing Class (WWC) Online Angkatan ke 2, Juli 2017. Setelah dikompilasi, ditemukan 33 (tigapuluh tiga) kesulitan. Saya mencoba memberikan perspektif jawaban, dengan membagi menjadi tiga bagian jawaban. Satu bagian terdiri dari sebelas kesulitan, berikut jawabannya. Urut-urutan kesulitan ini ditulis tidak dengan menggunakan metode tertentu, namun semata-mata urutan masuknya daftar tersebut dari para peserta.

Kita mulai dari sebelas kesulitan pertama.

  1. Setelah ketemu temanya, susah menemukan kata pertama sebagai pembukaan dan selanjutnya setelah menulis bahasanya campur antara bahasa baku dan bahasa sehari-hari.

Jawaban : Menulis itu tidak harus urut dari pendahuluan hingga penutup. Tulislah dari bagian manapun yang paling mudah bagi anda. Jangan terfokus memulai dari pendahuluan, jika memang anda sulit menemukan rangkaian kata di bagian pendahuluan. Tulis saja isi atau esensi pokok yang ingin anda sampaikan. Setelah selesai menulis bagian isi, barulah anda menuliskan bagian-bagian lain —termasuk judul— yang belum anda tuliskan.

Tidak masalah bercampur antara bahasa baku dengan bahasa sehari-hari. Ini kan latihan. Sepanjang anda tahu mana yang kata dan istilah baku menurut Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), maka kata dan istilah yang tidak baku, bisa anda tulis dengan font italic atau huruf miring untuk membedakan. Semakin banyak anda menulis, akan semakin bisa membuat keserasian atau keseragaman, dalam menggunakan bahasa baku dan bahasa sehari-hari.

  1. Mengumpulkan data/acuan yang sahih untuk menguatkan materi/substansi yang akan diangkat dalam artikel

Jawaban : Jika anda belum menemukan data atau acuan untuk menguatkan materi tulisan, tinggalkan saja dulu. Jangan berhenti menulis hanya karena belum menemukan data yang anda inginkan. Tulis saja bagian lainnya hingga selesai. Setelah selesai, barulah anda mencari data-data dan acuan yang anda perlukan untuk menyempurnakan tulisan. Mencari data adalah jenis pekerjaan yang berbeda dengan menulis.

  1. Cara menulis agar mengalir dan mengena di hati 

Jawaban : Kapan anda merasa bisa mengendarai mobil atau motor dengan lancar dan nyaman? Pasti bukan ketika sedang kursus menyetir. Anda bisa mengendarai mobil dengan lancar dan nyaman, sampai membuat para penumpang tertidur karena halusnya cara anda menyetir, pasti setelah anda praktek membawa mobil dalam kehidupan sehari-hari, dan telah menempuh jam menyetir yang mencukupi. Demikian pula dalam menulis.

Cara menulis agar mengalir dan mengena di hati pembaca, itu sama dengan cara menyetir agar lancar dan tidak menakutkan bagi para penumpang. Tidak ada cara lain kecuali dengan menulis, menulis, dan terus menulis. Teori sudah saya sampaikan pada eBook dan materi saat Kuliah Online, sekarang tinggal mengasah kemampuan menulis dengan berlatih setiap hari tanpa berhenti.

  1. Menjadikan tulisan hidup dan mudah untuk dipahami

Jawaban : Sesuatu yang muncul dan keluar dari hati anda, akan hidup dan mudah dipahami orang lain. Perhatikan doa yang sering kita baca berikut ini:

Rabiisyrahli shadri ==> kelapangan dada

Wa yassirli amri ==> kemudahan urusan

Wahlul uqdatan min lisani ==> hilangnya kendala bicara

Yafqahu qauli ==> mudah dipahami

Urutannya kurang lebih begini: jika dada kita lapang, maka urusan kita akan menjadi mudah, hilang pula kendala kita dalam bicara (menulis), maka perkataan / tulisan kita akan mudah dipahami. Kata kunci pertama kali adalah insyirahus shadr, kelapangan dada. Hal ini mengisyaratkan pentingnya ketulusan hati, kelurusan motivasi, terbebasnya dada kita dari hal-hal yang memberatkan, seperti motivasi duniawi, ingin dipuji, ingin disanjung karena hebatnya omongan atau tulisan kita. Lapangkan dulu dada kita saat menulis, semua akan lancar tanpa kendala dan menjadi mudah dimengerti maksud kita.

  1. Memindahkan bahasa lisan/pikiran ke bahasa tulisan

Jawaban : Ikuti langkah berikut. Pertama, pilih tema yang akan anda tulis. Kedua, cobalah narasikan tema tersebut dengan lisan, seperti anda bercerita kepada orang lain, atau seperti anda mengajar di kelas. Bicara saja dengan bebas untuk menjelaskan tema yang anda pilih. Ketiga, rekamlah suara anda saat menjelaskan tema yang akan anda tulis tersebut. Keempat, transkrip atau tuliskan rekaman suara tadi. cara seperti ini penting untuk anda yang lebih mudah menyampaikan ide melalui pembicaraan ketimbang tulisan.

Karena pada dasarnya, menulis itu sama dengan berbicara. Bedanya adalah, jika berbicara menimbulkan suara atau bunyi, sedangkan menulis menghasilkan karya tulis. Jika anda selama ini lancar berbicara, artinya anda pun akan lancar menulis. Hanya perlu konsisten berlatih setiap hari.

  1. Mengedit tulisan ternyata membutuhkan waktu lama

Jawaban : Benar. Mengedit dan menulis adalah dua pekerjaan yang berbeda. Menulis itu menggunakan perasaan, mengedit itu menggunakan pikiran. Karena berpikir, maka lebih sulit dan lebih rumit. Inilah mengapa selalu saya sampaikan bahwa menulis itu mudah, karena yang sulit adalah bagian mengedit. Kelak setelah anda semakin profesional dalam menulis, maka akan ada editor terhadap tulisan anda. Jadi anda hanya perlu fokus menulis dan tidak perlu pusing mengedit, karena sudah ada editor yang mengerjakan pekerjaan editing.

  1. Menempatkan tanda baca

Jawaban : Menempatkan tanda baca, adalah bagian dari teori ketatabahasaan. Ini pelajaran Bahasa Indonesia waktu sekolah sejak SD sampai SMA. Ada baiknya ditengok lagi pelajaran Bahasa Indonesia anak kita yang masih sekolah, karena itu termasuk pelajaran dasar ketatabahasaan yang diajarkan di bangku sekolah. Apa fungsi tanda seru dan kapan menggunakannya; apa gungsi tanda tanya dan kapan menggunakannya; apa fungsi koma, titik koma, tanda kutip, dan lain sebagainya. Ini pelajaran sekolah, bisa kita tengok di buku pelajaran anak-anak kita.

  1. Bagaimana menutup tulisan supaya berkesan

Jawaban : menutup tulisan agar berkesan, bisa dengan perenungan, bisa dengan kutipan atau quotes pernyataan tokoh yang relevan, bisa dengan kisah, bahkan bisa pula dengan pertanyaan.

  1. Menulisnya masih menunggu mood

Jawaban : Memangnya “Mood” itu siapa sih? Mengapa harus ditunggu? Mengapa kita tidak berjalan dan menjemputnya? Apakah kita perlu menunggu mood untuk berbicara? Menulis adalah pekerjaan memindahkan ide ke dalam tulisan, jadi mood itu hanya bermanfaat untuk menambah kekuatan jiwa tulisan, dan bukan untuk mengerjakan tulisan.

  1. Menyambung dari satu kalimat ke kalimat  selanjutnya sehingga menjadi paragraf yang enak dibaca

Jawaban : Langkah pertama dalam menyusun paragraf adalah tulis saja dulu semua yang ingin anda tulis. Pertanyaan bagaimana menjadikan paragraf yang enak dibaca, ini sudah masuk bagian editing. Jangan dulu dibuat pusing dengan membuat paragraf yang enak dibaca, itu nanti urusan setelah kita selesai menulis, barulah kita mulai mengedit.

Di antara yang kita edit dari tulisan kita adalah, ketersambungan antar kalimat dalam satu paragraf, juga ketersambungan antar paragraf dalam satu bab atau sub bab. Ketika kita menemukan ada kalimat yang tidak menyambung dengan kalimat berikutnya dalam satu paragraf, kita bisa mengubah dengan tiga cara. Cara pertama adalah Penghapusan. yang dimaksud adalah dengan menghapus kalimat tersebut karena tidak menyambung dengan kalimat lain. Penghapusan ini bertujuan untuk membuat ketersambungan atau kenyamanan dalam membaca suatu paragraf. Dengan cara ini berarti ada kalimat yang ‘terpaksa’ dihapus demi tujuan penyesuaian.

Cara kedua adalah Pemindahan. Hal ini dilakukan dengan memindahkan kalimat yang tidak sesuai tersebut ke bagian lain, atau memindahkan kalimat tersebut ke paragraf yang lain, yang lebih menyambung atau lebih sesuai. Dalam cara ini tidak perlu ada kalimat yang dihapus, hanya dipindahtempatkan saja. Karena kadang kita merasa sayang untuk menghapus suatu kalimat yang sudah ‘susah payah’ kita tuliskan; atau karena kita menganggap kalimat tersebut sangat penting. Hanya saja perlu dipindah tempat.

Cara ketiga adalah Penggantian. Hal ini dilakukan dengan dengan mengganti kalimat tersebut dengan kalimat lain yang lebih sesuai atau lebih menyambung dengan konteks paragraf. Adapun kalimat yang diganti, bisa dibuang atau dipertahankan, sesuai konteks ketersambungan yang dimaksud.

  1. Alur bahasa yang disukai pembaca untuk masyarakat

Jawaban : Alur bahasa yang disukai oleh masyarakat, tentu saja sangat beragam. Karena sedemikian majemuk masyarakat kita, dari kalangan kurang terdidik alias berpendidikan rendah, sampai yang sangat terdidik alias berpendidikan tinggi. Demikan berbeda pula untuk setiap rentang usia, apa yang disukai anak-anak, berbeda dengan remaja, berbeda dengan orang tua. Secara spesifik, ada perbedaan pula dalam jenis kelamin, suku, agama maupun profesi. Sangat kompleks untuk menyatakan apa yang disukai masyarakat.

Oleh karena beragamnya kondisi masyarakat, maka hendaknya dipahami bahwa tidak ada tulisan yang bisa disukai oleh semua kalangan. Tidak ada bahasa tulisan yang bisa menyenangkan semua pihak. Olah karena itu kita harus memilih segmen. Dalam menulis, kita tujukan untuk segmen mana tulisan kita. Setiap segmen memerlukan tema, gaya dan corak yang berbeda.

Setelah anda menetapkan segmen pembaca, maka anda bisa mengetahui apa yang menarik bagi segmen tersebut, dengan tiga cara. Cara pertama adalah survei. Ini cara paling ilmiah dan paling serius, namun harus mengeluarkan biaya survei, dan memerlukan waktu yang panjang untuk melakukan survei maupun untuk menganalisa hasil survei. Cara kedua adalah dengan datang ke toko buku terbesar dan terlaris di kota anda, lalu tanyakan atau lihatlah buku-buku best seller pada setiap segmen pembaca. Dengan cara ini anda tidak perlu melakukan survei sendiri. Anda cukup mengetahui tema yang menarik dari buku-buku best seller di toko buku tersebut.

Cara ketiga, adalah dengan membaca buku-buku yang ditulis oleh para penulis senior, atau membaca majalah pada segmen yang sudah anda pilih. Misalnya anda memilih menulis untuk segmen wanita muda perkotaan. Kondisi mereka relatif terdidik, melek media, memiliki banyak akun di sosmed, suka narsis, dan lain sebagainya. Dengan tipe pembaca seperti itu, anda akan menghadirkan tulisan seperti apa? Nah, buku-buku karya orang lain, atau majalah yang sudah mapan pada segmennya, akan menuntun anda memahami apa yang mereka sukai.

BERSAMBUNG

Pak Cah

BEDAH NASKAH KARYA PESERTA WONDERFUL WRITING CLASS (WWC)

Oleh : Cahyadi Takariawan

WhatsApp Image 2017-06-20 at 05.57.55

Dari seluruh naskah yang masuk kepada admin WWC hingga Rabu 14 Juni 2017, ada lima catatan umum saya untuk perbaikan.

  1. Pertama, Catatan untuk Judul

Beberapa judul artikel sudah bagus dan menarik, sesuai dengan teori pembuatan judul. Beberapa yang lainnya membuat judul secara ‘standar’, dan beberapa lainnya judulnya perlu diubah agar lebih menarik dan mengandung kejelasan.

Contoh judul yang menarik:

10 Keuntungan LDR dari Suami

Bantu Aku Dengan Diam (Bisa ditambahi : Istriku, Bantu Aku Dengan Diam)

Nikah Muda Banyak Cerita

Hamil di Atas 40 Tahun, Siapa Takut?

Mengapa Wanita Harus Berbisnis?

Gaya Hidup Begini-begini Saja, Demi Hidup yang Tidak Begini-begini Saja

Dan lain-lain.

Contoh judul yang standar:

Menyemai Benih Iman

Bagaimana Cara Menumbuhkan Minat Baca Anak?

Mengejar CintaNya

Ketika Ujian Melanda

Dan lain-lain.

Contoh judul yang perlu diubah: 

  1. Judul : Komunikasi

Judul ini kurang memberikan kejelasan dan kurang memiliki daya tarik. Perlu diubah dengan judul lain yang lebih memberikan kejelasan isi, agar pembaca tahu apa yang akan dibahas dalam tulisan itu. Sesungguhnya isi tulisan tersebut sangat bagus, menceritakan bagaimana semestinya orang tua menegur anaknya yang masih kecil, saat ia memetik bunga tanpa izin pemiliknya. Dicontohkan percakapan lembut yang membuat anak tidak tersakiti hatinya.

Judul itu bisa diubah dengan :

“Tips Berkomunikasi dengan Anak”

“Agar Hati Anak Tidak Terluka”

“Saat Anak Anda Melakukan Kesalahan”

Dan lain sebagainya.

  1. Judul : Agar Undangan Bernilai Berkah

Ide dan isi tulisan sangat menarik, tentang bagaimana menampilkan undangan pernikahan, agar memiliki nilai berkah. Namun judulnya kurang memberikan informasi, bahwa yang dimaksud adalah undangan pernikahan. Padahal daya tarik terbesar tulisan itu —untuk segmen yang disasar— justru pada kata pernikahan.

Usulan perubahan judul :

“Agar Undangan Pernikahan Bernilai Berkah”

  1. Judul : Malaikat Juga Tahu, Ibu Mertualah Pemenangnya

Ide dan isi tulisan sangat menarik, tentang dinamika hubungan antara menantu dengan mertua. Namun judul di atas menggunakan kata sakral : malaikat. Saya menyarankan, agar kata malaikat diganti dengan kata yang lain. Misalnya : Semut pun Tahu, Ibu Mertualah Pemenangnya.

Hal-hal yang masuk kategori Rukun Iman adalah sakral, dan menjadi sensitif untuk digunakan jika tidak dalam konteks yang benar. Malaikat adalah makhluk ghaib, sementara kita tidak akan bisa mengerti apapun kondisi dan kegiatan malaikat, kecuali dari sumber kitab Allah dan hadits Nabi Saw. Kita tidak boleh mensejajarkan kedudukan para malaikat yang mulia dengan kedudukan manusia, juga tidak boleh menjadikan Rukun Iman sebagai hal yang sensasional.

Kedua, Catatan untuk Bagian Pendahuluan

Sudah banyak artikel karya peserta WWC menggunakan pendahuluan yang menarik, sesuai dengan teori. Misalnya dengan menggunakan ilustrasi cerita, atau penggambaran suatu kejadian, atau kutipan menarik dari tokoh.

Berikut ini saya ambilkan beberapa contoh naskah yang bagian pendahuluannya menarik.

  1. Judul : Bagaimana Menumbuhkan Minat Baca Anak?

Diawali dengan kisah dialog antara ibu dengan anak di sebuah warung sayur.

  1. Judul : Mengejar CintaNya

Diawali dengan ilustrasi kegiatan pagi hari di sebuah rumah, yang pernah ditayangkan dalam iklan kopi di televisi.

  1. Ingin Mendapatkan Kebahagiaan Hidup?

Diawali dengan kisah Umar bin Khathab yang tidur di gubuk beralaskan pelepah kurma.

  1. Judul : Agar Undangan Bernilai Berkah

Diawali dengan kutipan yang sesuai dengan tema tulisan, dari ulama muda Salim A. Fillah.

  1. Judul : Bantu Aku Dengan Diam

Diawali dengan kejadian di sebuah rumah kontrakan, menggambarkan aktivitas harian suami dan istri.

  1. Judul : Mengapa Wanita Harus Berbisnis?

Diawali dengan berita kematian seorang suami dengan meninggalkan beberapa anak yang masih kecil-kecil.

Namun masih ada beberapa naskah yang tidak menggunakan bagian pendahuluan, langsung masuk ke bagian isi. Cara seperti ini tampak terlalu to the poin, dan kurang menarik pembaca, walaupun isinya bagus.

Beberapa contoh naskah yang tidak menggunakan pendahuluan:

  1. Judul : 5 Langkah Mudah Menjadi Istri Solehah

Sangat baik kalau diawali dengan kisah atau penggambaran atau contoh istri salihah. Akan lebih hidup dan menarik.

  1. Judul : Komunikasi

Sangat baik kalau diawali dengan kutipan ayat atau hadits tentang pendidikan anak. Bisa juga pernyataan tokoh tentang pentingnya komunikasi antara orang tua dengan anak.

Contoh : “I have found the best way to give advice to your children is to find out what they want and then advise them to do it” — Harry S. Truman.

  1. Judul : Menyemai Benih Iman

Sangat baik jika diawali dengan kisah anak-anak di zaman Nabi Saw atau sahabat Nabi. Bisa juga kutipan pernyataan ulama tentang pentingnya pendidikan iman dalam kehidupan anak.

Ketiga, Catatan untuk Bagian Isi

Dalam bagian isi, ada beberapa catatan umum saya atas naskah yang sudah masuk ke admin WWC, sebagai berikut:

  1. Konten Positif

Secara keseluruhan naskah yang masuk memiliki konten positif. Semuanya positif dan konstruktif. Inilah misi menulis yang kita lakukan, yaitu memberikan motivasi dan inspirasi masyarakat luas untuk melakukan kebaikan. Pertahankan corak tulisan seperti ini, bahkan jadikan kepribadian tulisan anda.

  1. Konten Unik

Sudah banyak konten yang unik dari naskah yang masuk, karena menggunakan perspektif yang berbeda dengan pembahasan yang sudah banyak beredar. Sekedar sebagai contoh adalah naskah “10 Keuntungan LDR dari Suami”. Biasanya orang melihat LDR dari sisi negatif, dan memberi nasihat agar bisa menghadapi dengan baik. Namun naskah tersebut mengambil perspektif unik, melihat sisi keuntungan LDR dengan suami.

  1. Perlunya Pembagian Subjudul

Secara teknis, bagian isi adalah yang paling panjang sari sebuah tulisan. Maka bagian isi perlu dibagi menjadi beberapa sub-bagian, dan setiap sub-bagian diberikan subjudul yang menarik. Kegunaan subjudul adalah untuk memberikan jeda, sekaligus memberikan semangat baru untuk meneruskan membaca bagian selanjutnya.

Sebagian besar naskah yang masuk belum dibadi menjadi beberapa sub bagian. Hal ini mudah memberikan efek lelah bagi pembaca, karena tidak ada kesempatan jeda.

Keempat, Catatan tentang Pembuatan Paragraf

Sebagian besar naskah yang masuk sudah benar dalam membuat paragraf. Hanya ada sedikit naskah yang belum tepat dalam membuat paragraf. Berikut naskah yang perlu dibenahi pembuatan paragrafnya:

  1. Judul : Air Mata Menuju Surga

Dalam naskah ini satu paragraf hanya terdiri dari satu kalimat. Kemungkinan besar ditulis menggunakan gadget atau smartphone. Harap diperhatikan, paragraf dalam medsos berbeda dengan paragraf dalam artikel. Medsos cenderung tidak memiliki aturan baku, namun artikel memiliki aturan tentang paragraf. Saran saya, jika anda menulis artikel menggunakan smartphone, hendaknya anda mengubah ke bentuk naskah menggunakan laptop atau komputer. Karena sangat berbeda karakternya.

  1. Judul : Mengejar CintaNya

Catatan saya untuk naskah ini sama dengan sebelumnya, yaitu satu paragraf hanya terdiri dari satu kalimat. Kemungkinan besar ditulis menggunakan gadget atau smartphone. Ini perlu dibenahi agar sesuai standar pembuatan paragraf.

  1. Judul : Bagaimana Cara Menumbuhkan Minat Baca Anak?

Untuk naskah ini, secara umum sudah benar dalam pembuatan paragraf. Hanya pada paragraf pertama saja yang perlu dibenahi untuk membuat lebih menarik penampilannya. Karena berbentuk dialog, bisa dibuat paragraf tersendiri untuk setiap bagian dialog.

Tertulis pada naskah:

“Yang ini apa Ma?” tanya seorang anak kecil pada ibunya di sebuah warung sayur. “Terong!” jawab ibunya ketus sambil terus memilih sayuran yang akan dibeli. “Yang ini?” lanjut si anak bertanya, anak sepertinya tidak peduli atau memang tidak tahu bahwa ibunya tidak suka ditanya-tanya. “Labu siam!” jawab ibu masih dengan ketusan yang sama. “Kalau ini?” anak masih juga penasaran. “Diem ih! Nanya mulu kamu!” Akhirnya kesabaran si ibu habis juga untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sepele dari anak.

Saran perubahan:

“Yang ini apa Ma?” tanya seorang anak kecil pada ibunya di sebuah warung sayur.

“Terong!” jawab ibunya ketus sambil terus memilih sayuran yang akan dibeli.

“Yang ini?” lanjut si anak bertanya. Anak sepertinya tidak peduli atau memang tidak tahu bahwa ibunya tidak suka ditanya-tanya.

“Labu siam!” jawab ibu masih dengan ketusan yang sama.

“Kalau ini?” anak masih juga penasaran.

“Diem ih! Nanya mulu kamu!” Akhirnya kesabaran si ibu habis juga untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sepele dari anak.

Kelima, Catatan tentang Teknis Penulisan

Terkait teknis penulisan, ada beberapa catatan saya dari naskah yang masuk.

  1. Hindari Penggunaan Singkatan

Hendaknya menghindari penggunaan singkatan, kecuali untuk hal-hal yang memang dibolehkan untuk disingkat. Menulis artikel untuk dipublikasi melalui koran, majalah atau web resmi itu berbeda dengan menulis di grup whatsapp atau menulis di facebook, twitter, instagram dan lain-lain. Untuk artikel, tidak disarankan ada singkatan walaupun pembaca sudah tahu maksudnya, seperti yg, utk, dll, dlm, dan lain sebagainya.

Contoh singkatan yang harus dihindari dalam penulisan artikel:

Menurut Sean Convey dlm buku ‘The 7 Habits of Highly Effective Teens’, ada tujuh kebiasaan yg bisa dilakukan remaja utk sukses di masa depan.

Seharusnya:

Menurut Sean Convey dalam buku ‘The 7 Habits of Highly Effective Teens’, ada tujuh kebiasaan yang bisa dilakukan remaja untuk sukses di masa depan.

Contoh yang memang dibolehkan untuk disingkat adalah nama-nama lembaga, instansi, gelar, organisasi, dan lain-lain semisal itu. Seperti TNI, Polri, PGRI, SD, SMP, SMA, Drs, dan lain-lain.

  1. Hindari Sarkasme

Kata-kata yang tidak patut diucapkan, tidak patut pula untuk dituliskan. Misalnya kata-kata sarkasme. Banyak penulis cerpen atau novel biasa menggunakan kata-kata kasar dengan alasan menuliskan apa yang sesungguhnya terjadi dalam kebiasaan hidup di masyarakat. Kata-kata “misuh” dengan menggunakan nama-nama binatang, ditulis secara vulgar karena dalam kenyataan sehari-hari banyak orang mengucapkan kata itu.

Saya menemukan satu contoh pada naskah berjudul “Gaya Hidup Begini-begini Saja, Demi Hidup yang Tidak Begini-begini Saja”. Perhatikan kutipan satu paragraf dari naskah tersebut:

Melati, sebut saja demikian, bukan nama sebenarnya, mengupload foto jalan-jalannya ke Singapura. Dengan memamerkan barang-barang belanjaan dan tas brandednya. Dia menulis caption besar-besar “LIFE IS BEAUTIFUL”. Di seberang sana, Mawar, Bunga, Dahlia, Kembang, Kuncup melihat status Melati di HP masing-masing sambil ngedumel, “Life is beautiful ndasmu… mbok ya bayar utang dulu sebelum jalan-jalan. Utang ra sepiro kok yo lali…”

Penggunaan kata “ndasmu” dalam naskah tersebut bisa memberikan bias persepsi tentang si penulis dan tentang isi naskah. “Ndasmu” adalah kata kasar yang masuk kategori sarkasme. Jika kata itu diucapkan langsung akan bisa membuat orang kebanyakan tersinggung. Maka menjadi tidak etis pula untuk dituliskan. Penggunaan kata semacam itu bisa kontraproduktif dengan isi naskah yang Islami dan menasihati.

  1. Pelajari Kosa Kata Baku

Ada kosa kata baku, yang dianggap benar menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) dan tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Hendaknya kita menggunakan yang baku.

Contoh :

Judul : Air Mata Menuju Syurga

Catatan ada pada penggunaan kata “syurga”. Menurut KBBI, yang benar adalah surga, tanpa huruf y. Kadang kita menemukan variasi tulisan surga, seperti syurga, sorga, dan syorga. Walaupun kita mengerti maksudnya sama, namun ada yang baku dalam KBBI, maka kita gunakan yang baku.

Judul : 5 Langkah Mudah Menjadi Istri Solehah

Catatan pada penggunaan kata “solehah”. Menurut KBBI, yang benar adalah salihah. Kita sering menemukan variasi tulisan salihah, seperti solehah, sholihah, shalihah, sholehah dan lain sebagainya. Walaupun kita mengerti maksudnya sama, namun ada yang baku dalam KBBI, maka kita gunakan yang baku.

  1. Gunakan huruf miring untuk kata serapan atau kata yang tidak lazim

Boleh saja kita menggunakan kata-kata yang tidak lazim atau kata-kata serapan dari bahasa asing maupun bahasa daerah. Namun perlu diberi tanda dengan menggunakan huruf miring atau italic.

Misalnya pada naskah berjudul “Gaya Hidup Begini-begini Saja, Demi Hidup yang Tidak Begini-begini Saja”. Perhatikan kutipan dari naskah tersebut:

Melati, sebut saja demikian, bukan nama sebenarnya, mengupload foto jalan-jalannya ke Singapura. Dengan memamerkan barang-barang belanjaan dan tas brandednya. Dia menulis caption besar-besar “LIFE IS BEAUTIFUL”. Di seberang sana, Mawar, Bunga, Dahlia, Kembang, Kuncup melihat status Melati di HP masing-masing sambil ngedumel, “Life is beautiful ndasmumbok ya bayar utang dulu sebelum jalan-jalan. Utang ra sepiro kok yo lali…”

Ada banyak kata-kata serapan dan kata-kata tidak baku, seperti upload, branded, caption, life is beautiful, ngedumel, ndasmu, mbok ya, utang ra sepiro kok yo lali. Perlu ditandai dengan menggunakan huruf miring.

Pak Cah

MENULIS ITU MUDAH, LALU MENGAPA MENJADI SULIT?

Cahyadi Takariawan

astrology_writer
Pict from https://www.astrologyfix.com

Semua orang yang pernah sekolah pasti bisa menulis, karena kalau tidak bisa menulis sepertinya tidak akan lulus Sekolah Dasar. Semua orang normal, juga bisa berbicara dengan lancar. Bisa bercerita, bisa curhat ke orang lain, bisa menceritakan kejadian yang dialami atau dilihat. Nah, menulis adalah omongan yang diwujudkan dalam bentuk huruf-huruf. Jadi, apa sulitnya?

Berikut beberapa jawaban peserta Wonderful Writing Class.

Daftar Kesulitan Menulis, Beserta Daftar Jawaban

  1. Ilham

Menulis menunggu ilham, saya tidak tahu, akan sampai kapan bisa menulis. Orang menulis itu menuangkan ide, menceritakan kejadian, menceritakan perasaan, mengajak orang lain melakukan kebaikan, bertutur, menasehati diri sendiri, mengingatkan, dan lain sebagainya. Inilah sebabnya menulis bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Bukan menunggu ilham.

  1. Mentok di tengah jalan

Sangat banyak hal bisa ditulis. Jika tujuannya adalah belajar menulis sampai lancar, begitu mentok dalam menulis satu tema, tuliskan saja tema lainnya. Yang penting : menulis, menulis dan terus menulis.

  1. Ga percaya diri dengan tulisan

Hargailah diri anda sendiri. Semua orang itu unik. Cobalah sesekali lihat tulisan Baim Saptaman di Kompasiana. Apakah tulisan Baim itu bagus? Itu sangat relatif. Namun yang jelas, tulisan Baim itu : unik. Lihatlah, tulisan “kayak begitu saja”, likers-nya banyak.

Saya tidak percaya diri jika tulisan saya dibandingkan dengan tulisan Emha Ainun Najib atau penulis hebat lainnya. Tapi, menulis itu tidak ada standar kebagusan tertentu. Semua orang itu unik, maka jangan menulis dengan membandingkan tulisan kita dengan tulisan orang lain. Masing-masing kita punya gaya yang khas dan unik.

  1. Kondisi yang lelah dan tidak releks, bikin buntu sebab gak bisa duduk lama untuk nulis

Dalam situasi seperti itu, tulislah artikel berjudul : “Apa yang Saya Lakukan Saat Saya Lelah?” Maka anda akan tetap mudah belajar menulis dalam situasi seperti itu, karena sedang menceritakan apa yang anda alami saat itu.

  1. Deadline juga malah bikin panik

 Anda bisa menulis tanpa deadline. Tulis saja, dan jangan peduli deadline. Karena anda orang merdeka, terserah anda menulis apa dan kapan selesainya. Jika untuk WWC tidak bisa mengumpulkan tugas, toh saya tidak akan memarahi anda. Anda bisa mengirim tulisan kapanpun anda mau, japri kepada saya untuk saya beri komentar dan catatan. Mau menyelesaikan tulisan sepuluh tahun lagi, tidak ada masalah. Semoga sudah menjadi buku berjilid jilid.

  1. Ga bisa konsen meski 5 menit, ada pesan masuk dari temen, buka, ga jadi nulis, trus keundur sampai ingat kalau hari ini deadline

Tetapkan jam menulis. Satu jam, dua jam, terserah anda. Selama waktu itu, matikan gadget anda. Sebelum mematikan gadget, ubah dulu info di profil WA anda, “Maaf sedang menulis. Hubungi lagi jam 11.00 nanti”.

  1. Nggak bisa tercapai 5rb karakter. ketika dipanjangin jd meleber²

Tidak masalah tulisan anda kurang dari 5.000 karakter. Kumpulan tulisan pendek-pendek pun bisa menjadi buku. Saya sedang menyusunnya. Nanti kalau sudah jadi bukunya, anda akan mengerti bahwa sebuah buku bisa tersusun atas kumpulan tulisan pendek-pendek.

  1. Masih fokus dgn agenda di sekolah

Sesampai di rumah, tuliskanagenda-agenda sekolah anda, dan publikasikan melalui web atau medsos. Ini membuat anda lancar menulis, karena menuliskan apa yang sedang anda lakukan. Sekaligus branding nama sekolah anda. Keren.

  1. Sulit menemukan waktu yg produktif, diusilin bocah, sekalinya bocah KO emaknya ikutan KO

Sebangun dari KO, tuliskan keusilan anak anda. Lalu tuliskan tips untuk menghadapi keusilan anak. Ini menjadi cerita inspiratrif yang bermanfaat bagi banyak orang.

  1. Ide yg awalnya terbayang bisa dibenerkan panjang, setelah dituliskan lhaa kok macet cuma 1 paragraf trus bingung dilanjut apa. Sdh jeda dg baca2 tulisan org lain malah kok mau nyontek

Silakan nyontek ide atau inspirasi, tidak masalah sama sekali. Asalkan anda tulis ulang dengan bahasa anda sendiri. Salah satu fungsi tulisan kita adalah menginspirasi orang lain, jadi saya pun senang jika tulisan saya bisa menginspirasi banyak orang untuk menulis tema yang sama.

Jika anda hanya bisa menulis satu paragraf, berhenti saja di situ. Lalu posting satu paragraf itu di facebook, dengan tambahan keterangan : “Bersambung. Entah kapan”.

  1. Ingin menulis artikel yg mengulas dari sisi agama, tp ternyata gak PD dan merasa ilmu belum cukup

Pasti kita semua punya ilmu, sesedikit apapun ilmu kita. Tuliskan sesuai kadar ilmu yang kita miliki. Tidak usah berobsesi menulis semua hal, karena kita tidak mungkin tahu semua hal. Tulis yang kita tahu, itu saja sudah sangat banyak.

  1. Kurang baca jadinya susah untuk mengaitkan peristiwa satu dengan yang lain

Anda harus tahu manfaat “kurang membaca” bagi penulis. Manfaat kurang membaca adalah, tulisan anda benar-benar orisinil, tidak meniru gaya penulisan siapapun. Ini menjadi unik dan menarik. Maka tulis saja dengan gaya anda sendiri.

Kalau anda terlalu banyak membaca buku Tere Liye, maka gaya penulisan anda akan terpengaruh oleh Tere Liye. Anta ma’a man ahbabta.

  1. Sulit fokus, konsentrasi & berbagi waktu antara tugas koreksi UKK, rekap nilai & pencapaian target Ramadhan

Berhenti sejenak dari kesibukan berjibun itu. Tulis tema “Bagaimana Mengatur Waktu Untuk Koreksi UKK, Rekap Nilai, Target Ramadhan dan Keluarga”. Anda pasti sangat lancar menuliskannya.

  1. Kondisi yang lelah dan tidak rileks, bikin buntu sebab gak bs duduk lama utk nulis

Menulis tidak harus dengan duduk. Saya pernah menulis artikel sambil berdiri dalam antrian panjang untuk check in di bandara. Toh kita semua pegang gadget yang bisa kita pakai untuk menulis.

  1. Deadline bikin panik (gak pernah di kejar deadline soale)

Sudah saya jawab pada poin nomer 5. Lagian, jangan mau dikejar deadline. Anda yang harus mengejar deadline, biar deadline bisa anda kalahkan.

  1. Belum bisa menulis dgn lugas, sederhana tapi pesan tersampaikan

Jika anda tidak pernah menulis, maka anda tidak pernah bisa. Namun jika anda terus menulis, suatu ketika anda pasti bisamenulis dengan lugas, sederhana dan pesan tersampakan.

  1. Laptop sedang rusak dan tablet baru keluar servis siang nanti (satu2nya jalan hrs ke warnet

Masih banyak jalan lainnya. Tulis pakai gadget, atau pinjam laptop teman, atau tulis dulu di buku tulis anda. Nanti setelah tablet jadi, baru ditulis ulang. Menulis ulang seperti ini memiliki keuntungan, yaitu membuat anda sekaligus memperbaiki tulisan.

  1. Malas, banyak beralasan, kurang baca, kurang ilmu,kurang referensi, perfeksionis, sering terjadi kalimat berulang, kurang terampil merumuskan kalimat

Coba tuliskan tema “Alasan-alasan Saya untuk Tidak Menulis”, pasti akan sangat lancar, karena anda memiliki banyak alasan.

Anda sudah nencampuradukkan antara menulis dengan mengedit. Jika anda fokus menulis, anda tidak akan peduli dengan kalimat berulang. Jika anda fokus menulis, anda tidak akan perfeksionis. Sikap-sikap itu layaknya dimiliki seorang editor.

  1. Pengennya nulis yang bahasanya nyantai dan terkesan seperti sedang ngobrol dengan teman, tapi yang keluar seperti materi kuliah, jadi ga pede sendiri bacanya

Itu sudah masuk materi editing. Kita hanya belajar menulis, dan saya hanya meminta kepada anda untuk belajar menulis. Lain waktu kita bisa belajar bersama soal mengedit. Jadi, mau seperti kuliah atau seperti ceramah atau seperti apapun, emang masalahnya apa?

  1. Keseringan buka gatget, jd ngak fokus

Sudah saya jawab dalam poin nomer 6. Selain itu, anda bisa menulis tema “Gaget dan Fokus Menulis”. Pasti lancar.

  1. Bersamaan dengan libur sekolah menjelang lebaran keluarga banyak yg datang, alhamdulillah rumah penuh, konsentrasi fokus melayani mertua dan saudara serta keponakan2

Tidak mungkin melayani mertua dan saudara sampai 24 jam. Jika anda sisihkan waktu 1 jam untuk menulis, anda masih punya waktu 23 jam untuk melayani mereka.

  1. Keseringan nggak moodnya 

Menulis tidak harus dengan mood. Apapun mood kita, tetap bisa menulis. Bahkan anda bisa merangsang mood dengan banyak cara. Masing-masing kita bisa punya cara yang berbeda untuk merangsang mood menulis.

  1. Belum terbiasa menulis panjang. Jadi kadang baru separuh, sudah kehabisan kata-kata

Separuh itu pun cukup. Bahkan seperempat juga cukup. Jika anda memiliki banyak tulisan yang pendek-pendek, itupun layak menjadi buku.

Jika anda biasakan terus menerus menulis, lama-lama tulisan anda jadi panjang. Hanya soal berlatih dan terus berlatih.

  1. Pembatasan jumlah character, kdg bikin tulisan jd gak bebas, ahirnya edit sana-sini, spy mencapai jml yg ditentukan

Forum kita ini bukan lomba, hanya belajar. Anda bebas mengekspresikan tulisan sependek atau sepanjang apapun. Bahkan anda bisa menulis dengan tema “Mengapa Saya Menulis Lebih Panjang dari Ketentuan Admin WWC?”

Tidak perlu anda potong atau anda pendekkan, jika tujuannya adalah belajar menulis. Pembatasan dengan ketat baru akan kita berlakukan saat memilih tulisan untuk masuk ke dalam buku antologi. Karena menjadi tidak indah bukunya, ketika satu tulisan berisi 1.000 karakter, namun tulisan lainnya sampai 100.000 karakter. Itu sebabnya perlu dibatasi biar rapi dan setara.

  1. Merangkai kalimat

Kalimat itu terdiri dari kata-kata. Maka susunlah kata-kata seperti ketika anda berbicara, lalu tuliskan saja. Jadilah kalimat.

  1. Mencari bahan untuk memulai paragraf

Terlalu banyak bahan untuk ditulis, tidak perlu dicari-cari. Semua hal bisa menjadi bahan tulisan tanpa haeus dicari. Kecuali ketika anda menulis artikel ilmiah murni yang harus penuh referensi. Kita hanya belajar menulis ilmiah populer, tidak ketat dengan referensi.

  1. Inginnya menulis di waktu tertentu biar fokus tapi ndak dapat

Jika tidak bisa menulis di waktu tertentu, maka menulis di waktu yang tidak tertentu. Kapanpun, dimanapun, anda bisa menulis. Tidak perlu menunggu waktu tertentu yang tidak bisa anda dapatkan.

  1. Manajemen waktu untuk menulis

Allah berikan waktu 24 jam sehari semalam. Tidak adakah slot 30 menit atau satu jam untuk menulis? Bahkan Presiden Amerika yang sangat sibuk sekalipun tetap sempat menulis.

  1. Menentukan judul

Tulis saja dulu, jangan sibuk mencari judul. Jika tulisan sudah selesai, baru mencari judul. Jika anda tetap tidak bisa menemukan judul, maka berikan judul artikel anda “Belum Ada Judul”, seperti lagunya Iwan Fals.

  1. Membuat pembuka

Membuat pembuka atau pendahuluan ada sangat banyak cara, seperti sudah saya sampaikan dalam materi kuliah sebelumnya. Pilih salah satu. Sebuah cerita, sebuah dialog, sebuah pernyataan, semua bisa menjadi kalimat pembuka.

  1. Menuangkan ide ke dalam rangkaian kata-kata

Inilah pentingnya kita berlatih menulis. Dengan terus berlatih, semua akan lebih mudah kita lakukan. Dulu anda tidak bisa mengendarai motor atau mobil, sekarang bisa. Mengapa sekarang anda bisa? Karena berlatih dan terus praktek menyetir.

  1. Susunan kata, kalimat

Susunan kata dan kalimat itu seperti anda berbicara. Ya seperti itu. Setiap hari anda berkomunikasi bukan? Nah, itu artinya anda sudah bisa menyusun kata-kata menjadi kalimat. Tuliskan omongan anda itu. Jadilah tulisan.

  1. Terlalu banyak ide jadi bingung mau yang mana

Yang manapun boleh kok. Segera pilih, dan segera tulis. Catatannya selalu : pilih yang paling mudah, jangan menulis dari yang susah.

  1. Susah utk memulai penulisan

Buka laptop, gerakkan jari-jari anda di atas keyboard. Tuangkan apa yang terlintas dalam perasaan atau pikiran anda. Itu yang disebut sebagai MEMULAI menulis. Tidak sulit. Kelak anda tahu, bahwa yang sulit adalah mengakhiri, bukan memulai.

  1. Waktu yg harus kejar kejaran dengan Pekerjaan

Anda jangan mau dikejar-kejar waktu, juga jangan mau mengejar-ngejar waktu. Karena waktu itu flat, selalu 24 jam sehari semalam. Tidak perlu dikejar. Anda hanya perlu waktu 30 menit sampai 1 jam sehari untuk menulis. Jam berapapun itu, sedang berada dimanapun anda saat itu.

  1. Menunda nunda menulis karena punya prinsif The Power of kepepet.. Ide muncul saat stressor sudah meningkat

Tidak masalah, jika anda menikmati itu. Lakukan saja, teruslah menunda-nunda sampai batas deadline tiba. Itulah manfaat deadline bagi yang suka menunda-nunda.

  1. Menentukan angle penulisan

Tulis saja dulu dengan apa yang sudah ada dalam pikiran atau perasaan anda. Jika nanti sudah selesai lalu anda merasa ada angle lain yang lebih tepat menurut anda, tulis lagi dari angle yang berbeda. Anda justru punya dua naskah. Ini termasuk “kelakuan” saya jaman dulu masih muda, modus agar satu tema yang sama bisa dimuat di banyak majalah yang berbeda.

  1. Membuat paragraf pembuka yg ‘nendang’

Bikin saja bagian isi sampai penutup. Terakhir, anda baru menulis bagian pendahuluan. Tulis saja bagian pendahuluan. Jika anda tidak puas, jangan dihapus yang sudah ada. Bikin pendahuluan lagi saja, sampai anda menemukan pendahuluan yang nendang.

  1. Manajemen waktu, karena punya anak yang sedang aktif (mulai berjalan), menulis nunggu anak bobok, jadi sudah capek dulu kejar2an dengan anak

Tulislah tema “Asyiknya Menemani Balitaku Bermain”, pasti akan sangat lancar, karena setiap hari anda lakukan.

  1. Menemukan atau mencari hikmah dari tulisan yang sesuai, kadang menemukan, tapi Sumbernya tidak valid. (Kurang membaca).

Jika anda ingin mengambil hikmah, gunakan kalimat anda sendiri. Tidak harus merujuk. Dengan cara seperti itu, anda tidak kebingungan dengan validitas rujukan. Toh tidak harus merujuk untuk menemukan sebuah hikmah tertentu. Bisa dari pengetahuan dan pengalaman anda sendiri. Justru ini orisinil.

  1. Lupa dengan apa yang akan ditulis. Saat sedang nyuci ato apa kepikiran, saat pegang alat tulis lupa dengan ide yang muncul

Sediakan alat tulis di dekat tempat mencuci. Saat ada ide, berhenti dua menit untuk mencatat ide, baru meneruskan mencuci lagi. Ini yang dilakukan Ibnu Batutah, kemanapun membawa alat tulis.

Jika sudah lupa dengan ide yang pernah melintas, segera tinggalkan itu. Jangan habiskan waktu untuk mengingat-ingat yang sudah dilupakan. Hadirkan saja ide baru. Sangat banyak.

  1. Minimnya referensi (ketahuan kl jarang baca..haha..)

Sudah saya sampaikan jawabannya dalam poin nomer 12 di atas. Menulis artikel ilmiah populer arau esai tidak harus dengan referensi.

  1. Manajemen waktu, sambil momong baby usia 9 bulan. Sehinhga ketika.menulis saya lakukam.ketika baby sudah tidur atau subuh. Sebelum.beliau bangun belum.lagi dengan aktifitas domestik… sehingga kemarin saya sempat kelabakan ketika deadline semakin dekat. Saya mengerjakan sesuai.kemampuan.saya saja dalam mengerjakan tugas di wwc ini

Syukuri dan nikmati itu semua. Anda bahkan tidak wajib mengumpulkan tugas WWC. Yang penting menulislah. Apapun temanya yang paling mudah anda tulis.

  1. Kadang ide bermunculan ketika ketika kita sedang menulis tentang a. Suka kadang buyar namun saya tetap.fokuskan.untuk.menyelesaiman.ide diawal.terlebih dahulu.

Itu yang namanya kebanjiran ide. Tapi bukan Ide Nurlaile… 🙂 Saat datang ide, berhenti sejenak dari menulis untuk mencatat ide, Miliki file Kumpulan Ide. Setelah itu, lanjutkan lagi menulis tema semula.

  1. Kemampuam menulis saya yang masih minim..kadang saya masih mengunakan.kalimat yang kurang tepat atau spok yang masih berantakan

Ini sudah materi editing. Saat ini fokuslah berlatih menulis saja, tidak perlu berpikir mengedit. Ada saatnya nanti kita belajar mengedit tulisan.

  1. Kurang telitinya saya kadang saya paling malas mengedit tulisan. Hihi pas dibaca banyak.yang salah atau kurang hurup. Saya menulis biasanya mengunakan.gadget..

Tidak masalah. Bersyukurlah anda masih bisa salah. Jika benar terus, sepertinya anda sudah menjadi makhluk yang berbeda dari jenis manusia…:)

  1. Sarana menulis ; saya kikuk menulis di laptop, atau menyalin dari kertas ke laptop karena sudah lama dan jarang buka laptop

Anda boleh menulis dengan sarana apa saja yang mudah bagi anda. Jika anda lebih enjoy dengan menulis di buku tulis, lakukan saja. Setelah itu minta orang lain untuk memindah ke laptop. Jangan disibukkan dan dirumitkan oleh sarana. Enjoy it.

  1. Masih sulit merangkai kata yang pas dan tepat mjd kalimat dan paragraf

Ini hanya masalah “jam menulis”. Makin sering anda menulis, makin mudah anda merangkai kata, membuat kalimat serta paragraf. Dan itulah tujuan kita di WWC ini : berlatih menulis.

  1. Kebetulan kejar-kejaran jg dgn deadline tugas sekolah 

Sudah saya sampaikan di atas, jangan mau dikejar-kejar deadline. Santai saja. Anda boleh mengirim tulisan ke saya kapan saja. Yang penting mau terus berlatih menulis.

  1. Laptop tertinggal di rmh ortu, kelupaan

Segera telpon ortu anda, agar mengirim laptop melalui paket yang aman. Sekarang tulis dulu menggunakan gadget atau bahkan di buku tulis.

  1. Sedang Bad mood

Tuliskan saja badmood anda. Suasana hati, suasana jiwa yang sedang tidak nyaman, justru bisa menjadi bahan tulisan.

  1. Managemen waktu krn semua pekerjaan rmh tgga dan mengurus anak dihandle sendiri

Bersyukurlah dengan banyaknya pahala yang anda dapatkan. Tentu anda harus punya prioritas. Jika belum bisa mengerjakan tugas sekarang, no problem.

  1. Ketika wkt luang lebih suka membaca Al-Qur’an, dan kajian2 islam, bahkan ketika sedang memasak, menyapu, mengepel pun sambil mendengarkan ceramah di youtube. Ini yg sedang sy nikmati saat ini…

Teruskan kebiasaan itu, dan jangan dihentikan. Karena itu semua kebiasaan positif. Tinggal menambah kebiasaan positif yang lainnya, salah satunya adalah menulis. Saya biasa menulis sambil medengarkan ceramahnya Kyai Anwar Zahid.

Jadi apa masalahnya dengan yang anda sampaikan itu? Tidak ada masalah sama sekali. Semua kebiasaan positif anda itu tidak bertentangan dengan kegiatan menulis.

======

Saya menulis ini dalam perjalanan dari Jogja menuju Solo, numpang mobil. Jadi maaf kalau tidak sempat mengedit.

Perjalanan Yogyakarta – Solo, 19 Juni 2017

Kelas Malam

BERJODOH DENGANNYA

 Wuri Kurniatun

“Bu, janjane aku ki pengin e mbok yo gek ra doyan mangan, trus kuru, opo gek lara ngono kuwi lho.” (bu, sebenarnya yang aku inginkan adalah kemudian aku tidak doyan makan, terus jadi kurus, atau sakit). Seorang perempuan tampak lesu menceritakan kisahnya. Ia berharap suaminya akan mendengarkan apa yang ingin disampaikannyajika hal itu terjadi, demi kebaikan semuanya. Suaminya mempunyai hutang ratusan juta karena berjudi. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali dan bagaimana lagi ia mengupayakan kesembuhan untuk suaminya itu, sehingga mengatakan hal demikian.

Ana, jilbabnya lebar, atau luebarrr mungkin kategorinya, orangnya santun, pokoknya solihah dalam pandangan sekilas saja. Sementara suaminya adalah lelaki yang dikenal oleh orang-orang di sekitarnya sebagai seorang gali, preman, badannya kekar, bertato, minum, dan judi. “dia tuh baik sekali bu hari-hari biasa, baiiikkk sekali. Kalo masalah yang kayak gituan nya sih ga pernah dibawa pulang, jadi di rumah itu damai, anak-anak nyaman” lanjutnya, sepertinya Ana tak lelah menanti kesembuhan yang sempurna bagi ayah dari anak-anaknya.

Ana, temanku yang sangat dekat. Baru beberapa tahun aku mengenalnya. Ya, hanya sebatas tahu bahwa namanya Ana, tinggal di mana, suaminya siapa, anaknya siapa, bla bla bla. Ana, perempuan yang pernah menjadi SPG, Sales Promotion Girl, yang modis, celana sepaha, baju you can see, dan make up yang tidak umum dipake wong ndeso. Ahh…tau apa aku tentang Ana. Aku sudah pernah menilai orang hanya dari penampilannya yang terlihat jauh dari hidayah, tapi belakangan hari ia justru seolah menyalahkan dunia, karena tak seorangpun menariknya kepada hidayah, ia sangat butuh hidayah. Dan aku tak mau ini terulang. Maka aku tak sungkan dengan Ana meski dia berpenampilan seperti itu. Berharap jika ia berkesempatan mendapat hidayah, itu harus aku yang menjadi jalannya. Namun begitu, aku tak juga mendekatinya, hanya pergaulan biasa. Hingga Allah menakdirkan kami berada dalam satu tim.

Tuntutan pekerjaan mengharuskannya mengubah penampilan, pakai rok dan jilbab yang lebar. Ia dengan senang hati melakukannya. Bahkan ketika suaminya tidak setuju untuk memasukkan anaknya ke sekolah islam, ia tetap bersikeras untuk mendaftarkan ananya di sekolah itu serta berjanji bahwa suaminya tidak akan direpotkan dengan segala pernik-pernik persekolahan anaknya nanti. Sebenarnya sedih juga gembira, mendapati Ana mulai banyak membicarakan tentang agama. Sedih karena aku merasa tidak punya andil dalam perjalanannya menuju hidayah itu. Entah siapa yang telah menyentuhnya. Bahagia karena ia yang dulu bagaimana, sekarang ia bagaimana.

Hari itu, hari Kamis tiga tahun yang lalu, dan itu ulang tahunnnya. Aku tak hendak membicarakan itu. Entah angin apa yang menerbangkanku hingga mendarat di depan rumahnya, sebuah urusan pekerjaan. Aku mendapati pintunya terbuka, terlihat olehku rumah yang berantakan, dan bau wangi yang sangat menyengat.

“Assalaamu ‘alaykum. Buuu…” aku memanggilnya dari depan pintu, aku yakin dia di rumah. Tapi agak lama tak juga ada jawaban. Kuulangi panggilanku, masih menunggu di depan pintu dengan memegang beberapa lembar kertas yang hendak ku sodorkan padanya, urusan pekerjaan.

“Masuk saja bu…” suaranya lirih terdengar dari balik pintu di ruang tengah. Pelan-pelan aku masuk. Wangi yang menyebar ke seluruh ruangan semakin pekat menyambut kedatanganku. Melewati pintu kedua, agak hati-hati aku menapakkan kaki, beberapa barang terserak di lantai dan kudapati beberapa keping pecahan barang.

“….di sini saja bu” suaranya masih lirih. Aku menuju ruangan dari mana suara itu berasal. Dan ternyata sumber wanginya aroma itu berasal juga dari situ, dari kamarnya. Aku mendapatinya duduk, menunduk, mata sembab, daaaan….kulayangkan pandanganku ke samping kanan kirinya. Pintu almari pakaian jebol, isinya terserak di lantai, termasuk botol kaca yang pecah, botol parfum ternyata sumber wanginya. Barang-barang di meja juga mosak masik, berantakan. Benda campur baur terserak di lantai, di Kasur, di meja, dan bau wangi itu sesekali menggangguku, sangat wangi.

Ana memberi isyarat agar aku duduk di sampingnya, di kasur. Rasa hati ini ingin bertanya ada apa, tapi aku berhasil mengunci mulutku. Tentu bukan pertanyaan yang tepat mendapati Ana yang kondisinya sedang begitu. Kami duduk dalam kebisuan untuk beberapa saat, aku masih memandangi barang yang bertebaran di sana sini, dan Ana masih menunduk dengan sesekali terisak. “Sudah lama sekali dia tidak begini”, akhirnya Ana membuka mulutnya, memecah kebekuan di antara kami. Aku seketika menghentikan perjalanan mataku, kupandangi dia yang tak juga mengarahkan wajahnya kepadaku. Tak apa. Aku masih tak membuka mulut, menunggu Ana menyambung kalimatnya. Diambilnya beberapa barang yang terjangkau oleh tangannya tanpa beranjak, didekatkan ke arahnya. Akhirnya aku tidak kuat juga. Jari telunjukku bergerak mengacung ke arah lemari, dengan pandanganku yang tertuju pada Ana.

“Aku tuh cuma nanya, dia tidak suka. Katanya aku gak usah ngurusin dia, toh semua yang kuinginkan sudah dia turuti. Aku minta apa saja dia belikan, aku ngajak ke mana saja diantarkan, aku minta dia begini begitu dikabulkan, asal aku tidak usah mengurusi nakalnya dia” masih dengan suara lirih Ana melanjutkan. Aku mengangguk pelan. Lalu kami terdiam lagi.

“ya….. beginilah, kalo dia marah. Tidak ada yang bisa menghentikannya.” Bahasa tubuhnya memberitahuku bahwa kapal pecah di kamarnya itu adalah hasil karya suaminya.

Aku menanyakan di mana anak-anak dan simbok mertuanya. “di rumah mbakyuku” jawabnya singkat. O…pasti diungsikan pikirku. Lalu dikisahkannyalah tentang barang-barang yang pecah itu, tentang apa saja yang dia lakukan dengan suami dalam masa-masa yang indah, tentang kebiasaan buruk suaminya, tentang apa saja yang baru kali itu aku mendengarnya.

Ana, yang aku tak mengenalnya sebegitu  rupa, yang berubah drastis dalam sekejap mata, ternyata menyimpan cerita yang hanya kusaksikan dalam drama di layar kaca. Benar-benar hal yang tidak pernah aku bayangkan bisa terjadi di kehidupan. Aku adalah manusia datar, dunia selalu baik-baik saja di mataku. Begitu hijau dan asri, tak berwarna lain. Jadi aku benar-benar kaget dengan ini. Aku berpikir sejenak.

“Aku diantarkan oleh Allah ke sini bu.” Kubuka kunci mulutku. “Tadi sebenarnya aku sedang mengerjakan sesuatu, tapi aku kok begitu ingin ke sini. Padahal anak-anak biasanya ikut, tadi kok tidak mau ikut. Ternyata Allah mau ngasih tau ini kepadaku.” Aku beranikan diri menyentuh bahunya dengan tanpa menatapnya.

Suasana lebih cair sesaat kemudian, hingga tidak tahu terinspirasi dari mana aku mengatakan kepada Ana, “dia berjodoh denganmu.” Aduh…mulut kok ga bisa direm. Kemudian aku melanjutkan pembicaraan. Sebenarnya tak ingin banyak berbicara di situ, tapi mulut ini nyerocos saja. “Bukankah istrinya yang dulu tidak betah dengan semua ini, lalu Allah membuat kalian bisa bertahan lebih lama, sampai sekarang. Pasti Allah memilihkan dia untukmu, Bu. Aku kok merasa yakin, perjalanannya kea rah kebaikan akan segera dimulai“ aku menepuk pundaknya, berusaha agar tak bersikap sok menasehati, meskipun toh nyatanya jadi begitu yang terjadi.

 Ya sudahlah…in syaa Allah sudah diatur oleh Sang Penulis Skenario. Aku ditakdirkan berada pada situasi seperti itu, mendapati Ana yang belakangan hari aku tahu suaminya tak pulang tiga hari setelah menghancurkan isi rumahnya. Semoga Allah menguatkanmu, Ana, menjadi pahala atas kesabaranmu, dan juga menjadi penggugur dosamu atas salah khilafmu yang lalu.

Dengan apa yang terjadi hari ini, orang-orang di sekitarnya telah memberikan saran kepada Ana untuk menggugat cerai, tapi Ana berpikir lain. “Bukankah malah jadi sia-sia jika aku menyerah dengan ini, aku sudah berhasil melewati masa-masa sulit bersamanya. Jika dengan ini aku lantas menyudahi kisahku dengannya, aku akan sangat merasa perjuanganku selama ini menjadi tak berguna. Jadi aku akan bertahan. Bukankah dirimu dulu yang bilang bahwa dia jodohku bu?” haduhhh…Ana masihmengingat kata-kata itu. Mungkin iya, bahwa Ana BERJODOH DENGANNYA.

Kelas Malam

KISAH PANJANG HIJAB DI KAMAR OPERASI

Prita Kusumaningsih

a897eb6d2074a7640b7bee056bfc7b54
pict from https://s-media-cache-ak0.pinimg.com

“Jadi berapa meter kain yang dibutuhkan?”

“Jenis bahannya sudah dicek belum? Warnanya juga harus sama persis, lho”.

“Bagaimana kalau kita pinjam saja sepasang baju dan celana itu barang sehari? Buat contoh ke penjahit”

“Kamu jadi kan, bicara dengan ibu kepala ruangan kemarin?”

Itulah sebagian kasak kusuk kami, mahasiswi berhijab Fakultas Kedokteran semester 9 di sebuah universitas negeri di Surabaya di tahun 1988.

Bukan.  Kami bukan teroris yang sedang merencanakan pengeboman. Bukan pula sedang menyiapkan sebuah aksi damai.  Lebih dari itu, kami sedang merencanakan sebuah kerja besar.  Kerja yang tampaknya mustahil, tapi akan kami coba. Ini menyangkut nasib pendidikan kami dan juga para adik-adik yunior kami.  Berbekal keyakinan dan prasangka baik saja.

Tahun kelima,  tiba waktunya kami yang sudah menyandang gelar Dra.Med (sekarang SKed atau Sarjana Kedokteran) masuk ke kamar operasi secara penuh.    Dalam pergaulan sehari-hari di rumah sakit sebutannya adalah  dokter muda (DM).  Kalau di beberapa tempat disebut dengan Co Ass, itu sebenarnya istilah Belanda, kependekan dari Co Assistent.  Angkatan kami boleh dikatakan adalah angkatan perintis mahasiswi kedokteran berjilbab.  Kakak angkatan, ada juga yang berjilbab, tapi cuma 2 orang kalau tidak salah.  Jadi daya gebraknya tidak bisa besar.  Sedangkan kami bersembilan.  Dan ada banyak kawan mahasiswa yang seide, sejalan, serta siap mendukung perjuangan.

Apa yang hendak diperjuangkan? Dan apa kerja besar itu?

Yang hendak diperjuangkan adalah bagaimana agar aurat tetap terjaga saat sedang berada di kamar operasi.  Ini merupakan kelanjutan dari gerakan berbusana muslimah dengan jilbab menutup kepala yang dimulai sejak awal tahun 1980an.  Bila adik-adik siswa SMA saat itu berjuang agar diperbolehkan tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan seragam putih abu-abu berjilbab, perjuangan kami yang mahasiswi khususnya fakultas kedokteran adalah membuat seragam kamar operasi yang menutup aurat.

Setelah beberapa kali diskusi panjang akhirnya diputuskan bahwa kami akan membuat sendiri seragam kamar operasi khusus buat yang berbusana muslimah dan kemudian diserahkan sebagai inventaris.  Seperti diketahui, setiap orang yang masuk ke dalam kompleks kamar operasi (Operation Theatre) untuk urusan apa pun wajib ganti baju, pakai tutup kepala, masker, dan sandal khusus.  Semua itu sudah disediakan di ruang ganti.   Seragam  asli di kamar operasi adalah kemeja lengan pendek, berleher V yang cukup rendah, dan celana panjang.  Tutup kepalanya  bermodel seperti shower cap tipis dan menerawang dengan beberapa helai rambut yang terkadang lolos keluar.  Sandalnya juga  khusus.  Tentu saja dengan model sedemikian, masih banyak aurat yang terbuka.  Seorang kakak senior berjilbab pernah saya jumpai memasang peniti di leher kemeja agar tidak terlalu terbuka.  Dan selama mondar mandir di kamar operasi ia selalu berusaha menyembunyikan lengan bawahnya yang terbuka itu.   Pernah juga sekali waktu, kami mengenakan jilbab di balik showercap itu.  Baru beberapa langkah memasuki lorong,  semprotan pengawas kamar operasi (yang kamarnya memang terletak di dekat pintu utama) bakal menggema ke seluruh area.  Akibatnya bisa diduga. Tinggal pilih, lepas jilbab atau batal masuk!

Rapat kilat antara grup jilbab dengan rekan-rekan mahasiswa yang menaruh simpati membuahkan keputusan seperti di atas.  Harus buat seragam sendiri,  dan kemudian didaftarkan jadi inventaris kamar operasi.  Maka dibentuklah beberapa seksi.  Seksi-seksi tersebut meliputi bagian perijinan, bendahara merangkap bagian pengadaan, serta seksi penjahitan.  Mengingat anggaran yang dibutuhkan cukup besar untuk kantong mahasiswa maka kami semua bertindak sebagai seksi Dana Usaha (Danus).  Untuk bagian perijinan dipilih teman yang tutur bahasanya halus, tegas, namun persuasif.  Ini penting karena tugasnya adalah pedekate ke kepala ruangan dan merayu bagian perbajuan.

Salah satu keberatan yang disampaikan adalah, “Bagaimana kalian nanti kalau harus cuci tangan dengan baju lengan panjang tersebut?”

Pertanyaan yang wajar karena setiap orang yang bertugas dalam tim operasi (dokter operator, para asisten operasi dan petugas instrument) diwajibkan cuci tangan sampai ke siku.  Ini prosedur wajib.  Ibu perawat senior yang galak  menjabat kepala ruangan ini tak dapat membayangkan bagaimana caranya cuci tangan dengan baju lengan panjang! Pertanyaan yang wajar dan bisa dijawab dengan mudah. Yaitu, sebagai calon dokter muslimah kami tetap professional.  Cuci tangan sampai ke siku yang merupakan kewajiban saat akan mengenakan gaun operasi, tetap akan dikerjakan sesuai prosedur.  Ingat, busana muslimah tidak menghambat pekerjaan.

Kembali ke laptop.  Seksi selanjutnya adalah pengadaan barang yang bertugas beli kain ke pasar.  Saya sendiri kebagian seksi penjahitan.  Bukan karena bisa menjahit, tapi karena punya tetangga tukang jahit.  Yang mengharukan adalah laporan dari seksi danus, bahwa sumbangan dana terbesar ternyata datang dari rekan-rekan mahasiswa simpati!

Dua pekan kemudian, jadilah 10 set seragam kamar operasi plus kerudung dan kaos kaki hasil kolaborasi mahasiswi muslimah dan rekan mahasiswanya.  Alhamdulillah, petugas kamar ganti tak keberatan dengan adanya baju-baju tambahan dari luar  tersebut.  Dan kami pun bisa dengan nyaman dan aman bertugas di kamar operasi

Waktu terus berjalan.  Seusai bertugas di daerah terpencil, enam tahun kemudian saya kembali ke almamater untuk meneruskan pendidikan spesialis.  Jurusan yang saya dalami mengharuskan keluar masuk kamar operasi.  Dan betapa mengharukannya saat melihat baju-baju kami dulu  tetap jadi inventaris    Tentu saja seragam spesial tersebut sudah beranak pinak karena ternyata para dokter muda muslimah angkatan selanjutnya juga menyumbangkan seperangkat baju seragam.  Di lemari,  khusus tumpukan kemeja lengan panjang diberikan area khusus membentuk tumpukan tersendiri dengan judul “jilbab”.

Tak jarang saya menerima keluhan dari para dokter muda di rumah sakit lain atau di kota lain dengan problem yang sama, maka saya bilang , “Bernegosiasilah agar bisa menaruh seragam buatan sendiri.  Karena mungkin saja para petugas kamar operasi mengira merekalah yang harus menyediakan seragam tersebut. Tentu saja sangat repot dan berbelit prosedurnya”.

Jadi kalau saat ini di rumah sakit sudah sangat ramah jilbab, ketahuilah bahwa ada perjuangan untuk hal itu.  Dulu. Dan perjuangan itu ternyata masih terus berjalan hingga saat ini, setelah tiga puluh tahun berselang.  Sampai sekarang masih ada rumah sakit yang melarang penggunaan jilbab untuk paramedis, dan kalau pun boleh menutup kepala untuk baju hanya diijinkan berlengan tiga perempat, yaitu hanya sedikit melewati siku.  Dasar pelarangannya adalah ketakutan mengganggu pelayanan terhadap pasien yang tidak pernah terbukti.  Prihatin memang, namun itulah perjuangan. Tidak ada tamatnya.  (nin)

 

Kelas Malam

Hijabmu Tak Sebercanda Itu

Khairiyyah Nur Aisyah

Menasihati-Tetangga-Menutup-Aurat
pict fromhttps://cdn2.konsultasisyariah.com

Time flies too fast”, mungkin sebuah kiasan yang tepat. Begitu cepat rasanya, tak terasa kini resmi aku menyandang status sebagai mahasiswa tingkat akhir di sebuah Universitas di Kota Malang. Wow.. masih terbayang jelas rasanya memori 4 tahun lalu, pertama kali aku menginjakkan kaki di kampus itu. Sejenak aku terpaku memandang sekeliling, melihat bagaimana tiap mahasiswa bercengkrama sembari memperkenalkan diri antar satu dengan lainnya.

Masih tergambar jelas bagaimana mereka bergerombol dan tampak saling bercerita sambil sesekali diikuti dengan tawa. Masih ingat betul rasanya, bagaimana beragam penampilan yang seolah ingin mereka kesankan di hari pertama. Ada yang tampak rapih begitu dewasa, ada yang berpenampilan santai dengan rambut  gondrong dan jeans robek sambil sesekali mengisap rokok yang dipegangnya, ada yang begitu anggun dengan balutan jilbabnya, ada yang tampil mempesona dengan rambut yang dicat pirang dan sedikit ikal buatan di ujungnya, ada pula yang berpenampilan eye catching seolah ingin semua mata memandangnya.

Hari demi hari berlalu begitu cepat. Suatu hari aku tersenyum begitu lega, bagaimana satu persatu teman-temanku mulai memutuskan untuk menggunakan hijab. “Aduh… cantik bangettttt!”, “Subhanallah auranya makin keluar ya, semoga istiqomah,” “pangling ih, makin cantik,” “Ciyeee… makin banyak yang jatuh hati niiii kalo begini mah.” Begitu caraku menyemangati mereka, berharap mereka akan terus istiqomah dengan balutan jilbab yang menutupi auratnya.

Namun terkadang senyum itu berubah. Sedih rasanya, melihat beberapa dari mereka kembali datang ke kampus dengan jeans dan kemeja lengan pendek tanpa hijab yang digunakannya.

“Aduh kayanya aku belum siap deh berhijab,”

“Perbaiki diri dulu deh, baru nanti aku berhijab lagi,”                             

“Tunggu sampe koleksi kerudung gue banyak ya hahahaha,”

“Nanti ajadeh kerudungannya pas udah nikah,”

“Gerah ah.. pusing lama lama. Pelan-pelan deh belajar hijabnya.”

Bahkan suatu hari aku begitu terkejut, malam itu di sebuah pentas seni ulang tahun fakultasku, tampak seorang teman yang menggunakan hijab saat ke kampus, namun malam itu dengan bangga menggunakan pakaian yang bagiku adalah baju kekurangan bahan sehingga terlihat (maaf) pusarnya. Serasa ditampar rasanya! Sedih, marah, semua bercampur dalam benakku. Bagaimana bisa ia dengan mudah mempermainkan hijab dan berjalan penuh percaya diri dengan balutan baju seperti itu.

Saudariku.. Islam adalah agama yang mengajarkan untuk saling mencintai. Dan hijab adalah bentuk cinta islam kepada kita kaum perempuan. kadang aku bertanya dalam hati “Mengapa hingga kini jilbabmu belum juga kau pakai, setelah kau mengetahui bahwa jelas agamamu memerintahkan padamu, setelah jelas kau baca ayat-ayat yang mewajibkanmu menggunakannya untuk pelindung dirimu, setelah begitu banyak ajakan penuh cinta dari teman-temanmu agar kau segera menggunakannya. Tapi mengapa jilbab itu masih saja kau lipat rapih di lemarimu dan tidak terjulur sebagai pelindung dirimu?” Saudariku, percayalah bahwa dengan kau berhijab, kau tak akan pernah kalah cantik dengan mereka yang mengumbar aurat demi mata-mata yang memandangnya. Sungguh, dirimu di mata Allah akan jauh lebih berharga dibanding mereka. Terkadang aku berfikir, mengapa begitu banyak yang kau pikirkan hingga kau lontarkan beragam alasan untuk mengurungkan niat hijabmu, bukankah berhijab tidak sesulit itu?

  1. Aduh kayanya aku belum siap deh berhijab. Toh aku tetap menjalankan solat, puasa, dan ibadah lainnya.”

Saudariku.. layaknya solat, puasa, dan ibadah lainnya yang kau lakukan, bukankah berhijab juga merupakan amalan yang wajib kau lakukan dalam islam? Ibarat kau melakukan ibadah tanpa berhijab, bukankah sama saja layaknya kau susah payah berjalan mencari air, kemudian kau kembali dengan membawa ember penuh yang berat namun ember itu berlubang hingga kau tak sadar bahwa air yang kau bawa telah habis saat kau sampai di tujuan?

Saudariku.. sungguh sayang sekali jika kau sia-siakan amalan yang susah payah kau kumpulkan, namun sedikit demi sedikit amalan itu berkurang karna jutaan mata lelaki yang memandang aurat yang kau paparkan.

  1. “Nanti ajadeh pakai kerudung kalau sudah menikah. Nanti gaada yang suka kalau berhijabnya sekarang”

Saudariku.. tidakkah kau sadar siapa laki-laki yang memilihmu? Sungguh jika ia adalah laki-laki yang benar-benar mencintaimu, maka ia akan cemburu melihat auratmu dapat dengan mudah dipandang oleh laki-laki lain selain dirinya. Sungguh jika ia benar-benar mencintaimu, ia tidak akan membiarkan auratmu terlihat barang sejengkal saja oleh laki-laki lain hidung belang di luar sana. Lalu, mengapa ia membiarkanmu melakukan itu? Apa kau yakin dia adalah cinta sejatimu?

Sungguh wanita yang berhijab seolah dia berkata kepada kaum lelaki: “Tundukkan pandanganmu! Aku bukan milikmu dan kau tak berhak atas auratku.  Aku hanya milik laki-laki yang nanti Allah takdirkan padaku. Aku bebas tak terikat pada siapapun dan sungguh diriku terlalu berharga untuk aku pamerkan pada mereka.”

 Sedangkan wanita yang mengumbar auratnya, seolah ia berkata kepada kaum lelaki: “Wahai semua lelaki di sekelilingku, kau bebas menikmati indah dan lekukan tubuhku. Bukankah kau senang melihatnya? Tidakkah ada salah satu dari kalian yang ingin mendekatiku? Tidakkah ada dari kalian yang ingin tersenyum padaku sembari berkata, “Aduhai.. cantik sekali dirimu, Nona!” Sungguh akulah wanita yang pantas untuk kalian miliki.”

 Saudariku, sungguh islam telah meninggikan derajat wanita, lalu mengapa wanita sendiri yang menurunkan derajatnya? Ingatkah ketika kita berkunjung ke sebuah toko baju, awal niat hati hanya ingin melihat-lihat saja, kemudian tak sengaja kita melihat sebuah pakaian yang dipasangkan pada sebuah patung dan terlihat begitu menarik. Tentu secara otomatis kita akan tertarik melihatnya, kemudian memegangnya, hingga akhirnya mencobanya. Kemudian ketika kita ingin membelinya, tentu kita akan meminta kepada pelayan untuk mengambilkan stok yang masih terbungkus rapih di gudang. Bayangkan saja, jika membeli baju saja kita memilih stok yang masih terbungkus rapih dan terjaga dari jamahan orang, lalu bagaimana kita menjaga dan melabeli diri kite sendiri?

Girls, it’s beautiful if you’ve decided to wear hijab. Tapi sungguh hijabmu tak sebercanda itu. Bukan berarti setelah kau menggunakannya, lalu dengan mudah kau menanggalkannya. Because with doing that, tidak hanya kau yang dipermalukan, tapi secara tidak langsung islam telah dipermalukan olehmu. Sungguh dengan berhijab memungkinkan kau dipilih bukan karna fisik melainkan iman. Sungguh menjadi wanita terdapat dua pilihan, menjadi sebaik-baik perhiasan atau menjadi sebesar-besar fitnah.” Semoga Allah merahmati kita semua.

 

 

 

 

Kelas Malam

Jika Saya Menjadi Seorang Ibu

Adelia Marsa Karunika

ibuku-sayang
pic from http://www.voa-islam.com

Beberapa hari yang lalu, sempat berbincang dengan seorang teman tentang masalah jodoh dan pernikahan.

“Aku gak mau nikah muda,”ucapnya kala itu. Sementara, menikah muda adalah salah satu hal yang aku harapkan.

Refleks aku bertanya “Kenapa?”

“Aku mau kerja dulu, gak mau nikah muda. Kasihan anakku. Aku gak mau anakku besok kepanasan gara-gara kena sinar matahari, kemana-mana pakai motor, cukup ibunya aja yang kepanasan. Aku gak mau besok anakku beli ini itu mikir, aku pengen keinginan mereka dan kebutuhan mereka terpenuhi, aku gak mau anakku besok kamarnya masih pakai kipas angin, aku pengen kamar anakku pake ac” Ucapnya, saat aku bertemu beliau dalam acara reuni waktu itu. Aku hanya tersenyum mendengar penuturannya. Tidak menyalahkan juga tidak membenarkan. Obrolan kita terhenti dan lantas berganti topik yang lain.

Hampir delapan puluh persen tidak setuju dengan keinginannya, atau mungkin saja ketidakmampuanku untuk memenuhinya. Bayangkan, memiliki rumah sendiri dan ber-AC di setiap kamarnya, bohong jika aku tidak mau. Lalu, memiliki mobil sebelum menikah, juga pasti keinginan banyak orang. Hanya saja aku realistis, gajiku belum sebesar itu. Jika untuk membeli rumah dan mobil saja aku harus menunggu puluhan tahun, maka aku merasa sia-sia saja mengumpulkan uang hanya untuk mendapatkan rumah dan mobil. Sementara seharusnya aku bisa mengumpulkan atau menabung sesuatu lain yang tak hanya bermanfaat di dunia, tapi juga akhiratku.

Mengingat hadist yang berbunyi Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh(HR. Muslim no. 1631).

Tak ada salahnya bukan jika saya juga berfokus untuk lebih banyak sedekah, mencari ilmu dan mengamalkan, pun memiliki anak serta mendidiknya menjadi sholeh maupun sholehah.

Lalu mengapa saya lebih banyak tidak menyetujui perkataan teman saya dibanding meng-iyakan perkataannya ?

Banyak belajar dari sekitar, anak yang dari awal tidak diajari kerja keras, mereka tidak akan mau berkembang. Hukumlah anak sewajarnya, manjakan anak sewajarnya. Jika keinginannya memang tak bisa dituruti, katakan saja alasan kenapa tidak bisa.

Kebetulan saya memiliki sepupu yang baru berumur kelas satu SD, semasa kecil pernah jatuh dari ayunan saat masih berusia 4 tahun. Selama dua tahun berikutnya ia menjadi anak yang hiperaktif dan banyak makan. Tante saya (Orang tua anak tersebut) selalu membanggakan anaknya yang mudah sekali makan. Karena tak ada lauk pun, sepupu saya ini makan nasi saja tak pernah protes. Namun, karena terlalu hiperaktif, tante saya memeriksakannya ke dokter, setelah diketahui sepupu saya ini terkena virus. Antibiotik yang diminumnya akibat jatuh dari ayunan dulu, tidak terurai dengan baik di dalam usus. Akibatnya ketika mengonsumsi gandum, coklat, terigu, dan nasi berubah menjadi semacam morfin yang membuatnya menjadi anak hiperaktif.

Lihat kan? Tante saya salah. Hal yang selama ini dibangga-banggakannya malah menjadi hal yang sangat dilarang untuk didekati. Setelah itu sepupu saya tak pernah lagi diberi makan nasi, coklat, roti gandum, dan sesuatu lain yang memicu hiperaktifnya. Berkali-kali saya melihat anaknya merengek meminta roti coklat, namun tak pernah dituruti. Tante selalu menjelaskan mengapa dirinya tak boleh makan coklat, sementara teman-teman lain boleh memakannya. Sampai akhirnya sepupu saya berhenti merengek meminta coklat. Setelah hampir setahun tidak menyentuh makanan tersebut, dokter akhirnya membolehkan untuk memberi makanan tersebut selama tidak sering, pun ada waktu yang harus ditaati kapan boleh diberi dan kapan tidak boleh.

Maka, manjakan anak sesuai kapasitasnya. Karena pelukan dan rasa kasih saya orang tua lebih anak butuhkan dibanding segala sesuatu yang bersifat materi.

Namun, ada yang menggelitik hati saya ketika teman saya berkata demikian. Berkali-kali membuat saya berpikir, ibu sudah mencintai kita sebelum kita lahir, bahkan sebelum kita dibentuk oleh Allah. Setidaknya masih ada dua puluh persen di lubuk hati saya yang menyetujui perkataannya.

Bahkan sebelum teman saya berkata demikian, tak pernah sekalipun saya memikirkan bahwa ibu saya berjuang sekuat tenaga untuk kebahagiaan saya sebelum ia menikah. Karena yang selalu saya pikirkan adalah ibu mencintai dan menyayangi saya karena saya ada.

Saya mungkin tidak tahu bagaimana kerasnya ibu menjaga hidupnya serta memastikan agar saya kelak lahir dengan sehat, seperti menjaga pola makan, mengonsumsi makanan sehat, mengurangi makanan berlemak. Beliau rela tidak menyentuh makanan kesukaannya hanya karena agar bayi dikandungannya sehat dan tak kurang suatu apapun. Saya mungkin lupa bagaimana kerasnya ibu mendidik saya agar menjadi anak yang pintar dan sholehah, seperti membelikan buku-buku mahal yang akhirnya baru saya baca ketika besar, padahal beliau membelikannya ketika usia sekolah dasar. Terus menyuruh datang ke TPQ, padahal sering pula akhirnya saya membolos dan lebih memilih membeli jajan bersama teman-teman.

Tak dapat kupungkiri, mungkin kebahagiaanku saat ini adalah karena harapan dan doa mama dulu yang menginginkan yang terbaik buat aku dan adikku. Tak dapat berbohong, rasa cinta ke orang tua saat kita tengah berhasil dan sukses masih tidak ada artinya dibanding rasa cinta mereka pada kita bahkan saat ibu belum mengandung kita.

Maka, pantas saja Islam sangat menghargai wanita. Mereka sudah diuji sebelum menikah, hamil, dan melahirkan. untuk tetap memperhatikan masa depan, agar kelak keturunan menjadi sebaik-baik manusia.

Sehingga jika kelak saya menjadi seorang ibu, saya berjanji pada diri sendiri untuk berusaha ikhlas secara utuh melayani suami dan mendidik anak. Sesederhana itu tugas wanita, tapi tak semudah yang dibayangkan. Mungkin aku tidak setuju dengan temanku yang tidak ingin anaknya kepanasan terkena sinar matahari, kamar menggunakan ac, kebutuhan terpenuhi semuanya. Tapi satu hal yang saya inginkan, saya ingin anak saya lebih baik dan beruntung daripada saya. Tak hanya materi, tetapi juga tentang ilmu agama.

Kelas Malam

Berani Memilih, Melangkah dan Bertanggung Jawab

Mohamad Kurniawan

How-to-Make-Good-choices-and-make-the-most-of-them.jpg
pict from https://i0.wp.com

Kejadiannya sudah cukup lama. Sekitar 7 tahun yang lalu. Waktu persisnya saya tidak ingat lagi. Namun, peristiwa itu masih membekas kuat hingga sekarang. Bahkan dampaknya  bisa menjadi modal kuat bagi Izza, anak sulung saya menapaki masa depannya.

Begini kejadiannya. Siang itu, jam sudah menunjukkan pukul 13.40. Itu berarti 5 menit lagi pelajaran sekolah akan usai. Izza, yang waktu itu masih duduk di kelas 3 SD, biasa diantar dan dijemput. Kalau tidak oleh saya, istri saya, opa atau omanya. Dan siang itu yang mendapat tugas menjemput adalah omanya. Hingga 45 menit berlalu dari jam bubar sekolah, oma belum juga tiba.

Sementara satu persatu teman-teman dan guru-guru Izza mulai kembali ke rumah masing-masing. Sekolah mulai sepi. Karena tidak membawa uang sepeserpun yang bisa digunakan untuk menelpon omanya via wartel atau naik angkutan umum maka Izza mengambil keputusan berani. Izza memutuskan untuk pulang berjalan kaki sejauh kurang lebih 3 km. Berjalan kaki sendirian menyusuri jalan besar ditengah keriuhan dan teriknya matahari, bukanlah urusan mudah bagi anak berumur 9 tahun. Terlebih ini pertama kali dilakukannya.

Namun, keberaniannya mengambil keputusan siang itu mengalahkan semua kekuatirannya. Sampai di rumah, semua heboh. Terutama omanya, yang ternyata tidak bisa menjemput Izza karena ada urusan lain dan beliau lupa memberitahu saya ataupun istri saya. Lantas bagaimana saya dan istri menyikapi hal ini? Ternyata saya dan istri punya respon seragam. Alih-alih marah dan menyalahkan oma ataupun Izza, kami berdua justru mengapresiasi keberanian Izza memutuskan pulang berjalan kaki di bawah teriknya matahari siang itu.

Izza telah belajar sesuatu siang itu. Sebuah keputusan yang barangkali bagi kita kecil, namun tidak bagi anak yang masih duduk di bangku kelas 3 SD.

Selang 5 tahun kemudian, saat Izza sudah kelas 7 dan berumur 12 tahun, dia kembali bertemu sebuah persimpangan dalam hidupnya. Berhadapan dengan pilihan yang tidak mudah. Dia yang harus mengikuti kami pindah ke Darwin, Australia sejak bulan Oktober 2011, merasa sudah tidak betah lagi tinggal di kota di Australia utara ini. Dia ingin pulang ke Jogja. Melanjutkan sekolah di sana dan tinggal bersama oma dan opanya.

Sebuah keputusan besar. Tak hanya buat Izza, pun untuk kami orang tuanya. Kami yang akan masih tinggal di Darwin untuk 2 tahun lagi harus berpisah dengan anak sulung kami yang menginjak remaja. Melalui berbagai pertimbangan, saya dan istri mengijinkannya kembali tinggal dan sekolah di Jogja. Dia akan akan berpisah dengan kami. Orang tua dan juga adiknya. Cerita lengkap tentang keinginan Izza untuk pulang bisa dibaca di artikel saya yang lain, “Ayah Aku Ingin Pulang”.

Dalam proses pengambilan keputusan ada 2 model yang bisa kita lihat, risk averse dan risk challenge. Pola pertama, risk averse, dilakukan oleh mereka yang suka bermain aman. Pilihan ditentukan pada yang resikonya paling kecil. Tak jarang pilihan-pilihan dengan resiko yang lebih besar akan ditunda atau bahkan dihindari sama sekali.

Sementara pola kedua,  risk challenge, digemari mereka para penyuka tantangan. Resiko besar akan selalu berdampingan dengan hasil akhir yang lebih besar. Itu menjadi prinsip dasar pelaku-pelaku risk challenge.

Apa yang dipilih dan diputuskan anak saya dalam dua rangkaian peristiwa diatas menunjukkan dengan jelas bahwa yang diambil adalah keputusan dengan resiko yang tidak kecil. Bukan sebuah pilihan yang masuk kategori aman-aman saja. Apalagi pada saat peristiwa pertama Izza baru berumur 9 tahun.

Dari situlah kami semua belajar. Tidak hanya belajar bagaimana sebuah keputusan diambil. Namun kami juga belajar bahwa keputusan di dalam sebuah keluarga sejatinya saling terkait satu sama lain. Setiap anggota keluarga mempunyai hak untuk menentukan pilihannya masing-masing sekaligus harus siap dengan resiko dan konsekuensi dari pilihan-pilihan tersebut yang tentu saja tidak bisa dihindari.

Sebagai orang tua, saya dan istri, pun masih terus belajar memberikan respon terbaik pada terhadap setiap pilihan yang diputuskan oleh anak-anak saya. Sebijaksana mungkin.

Tak jarang kita justru memberikan respon negatif terhadap pilihan yang diambil oleh anak-anak kita. Sekecil apapun keputusan yang diambil anak-anak kita, semestinya kita memberikan apresiasi positif.

Dari pengamatan saya selama 5 tahun lebih tinggal di Australia, menunjukkan para orang tua di negara barat jauh lebih siap menerima setiap keputusan yang diambil oleh anak-anak mereka. Dengan menunjukkan lebih banyak respon positif. Anak-anak di Australia diajari arti sebuah pilihan dan resiko terhadap pilihan tersebut bahkan sejak mereka berusia balita. Dari sinilah tumbuh dan dipupuk nilai-nilai tanggung jawab pada diri anak-anak. Apa yang terjadi di masyarakat kita justru sebaliknya.  Anak-anak cenderung kita paksa untuk mengambil pilihan-pilihan dengan resiko sekecil dan seaman mungkin. Aman untuk dirinya dan keluarganya. Menurut saya apa yang terjadi di masyarakat kita tidak salah. Hanya saja, masa depan hanyalah akan menjadi milik mereka yang berani memilih, melangkah dan bertanggung jawab penuh terhadap semua resiko dan konsekuensi pilihan tersebut.

Akan ada di mana anak-anak kita nanti? Semua ada di tangan kita. Orang tuanya. Yang mempunyai kewajiban untuk mendidik mereka dengan sepenuh hati, emosi dan energi.